Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Iklan

Your Ad Here

Links

DAFTAR GRATIS LIHAT IKLAN DIBAYAR RUPIAH

clixant.com - PTC Inovatif Indonesia
Web Hosting

Selasa, 02 November 2010

PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEKNIK SKRAMBLE PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI PLUMBON KECAMATAN TEMON KABUPATEN KULON PROGO

Selasa, 02 November 2010
PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEKNIK SKRAMBLE PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI PLUMBON KECAMATAN TEMON KABUPATEN KULON PROGO 

SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan 

Oleh Hendrias Noor Hendrawan 
NIM 06108248376 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR JURUSAN PENDIDIKAN PRA SEKOLAH DAN SEKOLAH DASAR FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA OKTOBER 2010



MOTTO
Segala sesuatu akan berbuah baik jika diawali dengan kebaikan pula Tidak ada yang tidak mungkin jika ada usaha yang sungguh-sungguh (hendriasNH)


PERSEMBAHAN Karya ini penulis persembahkan kepada:
1. Ayah dan Ibu tercinta yang selalu memberikan doa dan restunya
2. Kakak dan adik-adikku tersayang
3. Teman-teman seangkatan dan almamaterku


PENINGKATAN KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN MELALUI TEKNIK SKRAMBLE PADA SISWA KELAS IV SEKOLAH DASAR NEGERI PLUMBON KECAMATAN TEMON KABUPATEN KULON PROGO Oleh Hendrias Noor Hendrawan NIM. 06108248376 ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan Teknik Skramble pada siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Plumbon Kecamatan Temon Kabupaten Kulon Progo. Desain penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini dilaksanakan pada semester II tahun ajaran 2009/ 2010, yakni pada tanggal 8 April sampai 19 Mei 2010. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV SD N Plumbon. Penelitian ini berlangsung dalam dua siklus, setiap siklus melalui empat tahap yaitu: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) observasi, (4) refleksi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan observasi dan wawancara. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskriptif kuantitatif dan deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Teknik Skramble yang mengedepankan perolehan informasi, sekaligus pemahaman atas informasi yang diperoleh tersebut dan pemberian pengalaman secara konkrit dalam pembelajaran membaca pemahaman mampu meningkatkan minat belajar siswa yang berimbas pada meningkatnya kemampuan membaca pemahaman siswa. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai yang semakin lama semakin baik, yaitu: (1) rata-rata nilai kondisi awal siswa sebesar 56,04; (2) rata-rata nilai pada siklus I sebesar 61,36; (3) rata-rata- nilai pada siklus II sebesar 75,32. Hal tersebut menunjukkan adanya selisih nilai antara kondisi awal siswa dengan kegiatan pembelajaran yang terakhir pada siklus II sebesar 18,88. Kunci Kata: kemampuan membaca pemahaman, skramble, sdn plumbon



KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat, hidayah serta inayah-Nya, sehingga pada kesempatan ini penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan tugas akhir/ skripsi yang berjudul “Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman melalui Teknik Skramble Pada Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri Plumbon Kecamatan Temon Kabupaten Kulonprogo” ini dengan baik. Tugas akhir/ skripsi ini diajukan kepada Fakultas Ilmu Pendidikan Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Negeri Yogyakarta untuk memenuhi persyaratan memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Prasekolah dan Sekolah Dasar. Dalam menyelesaikan tugas akhir/ skripsi ini, penulis mendapat bimbingan dan bantuan yang sangat berarti dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak/ Ibu berikut ini.
1. Bapak Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan yang telah mengizinkan penulis untuk melakukan pengumpulan data.
2. Bapak Pembantu Dekan I yang telah mengizinkan penulis untuk melaksanakan pengumpulan data.
3. Bapak Ketua jurusan PPSD yang memberi kemudahan pada penulis dalam menyusun tugas akhir/ skripsi ini.
4. Bapak Dr. Suhardi sebagai pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan selama menyelesaikan tugas ini.

5. Bapak Kepala Sekolah Dasar Negeri Plumbon yang telah memberi ijin untuk dilakukan pengambilan data di sekolah yang dipimpin.
6. Bapak dan Ibu guru serta segenap karyawan SD Negeri Plumbon.
7. Siswa dan siswi kelas IV SD Negeri Plumbon.
8. Para dosen yang telah memberikan pengetahuan dan pengalaman.
9. Kedua orang tua, kakak, dan adik-adikku yang selalu memberikan dorongan baik riil maupun spiritual.
10. Teman-teman yang selalu memberikan motivasi dan saran.
11. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penyusunan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa dalam menyelesaikan tugas ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari berbagai pihak senantiasa diharapkan oleh penulis. Akhir kata semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
 
Yogyakarta, 18 Agustus 2010
 
Penulis,
Hendrias Noor Hendrawan 
NIM 06108248376


DAFTAR ISI
Kata Pengantar .............................................................................................viii
Daftar Isi ......................................................................................................x
Daftar Tabel ................................................................................................. xii
Daftar Lampiran ..........................................................................................xiii
Daftar Gambar .............................................................................................xiv
Daftar Grafik ............................................................................................... xv
  
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................................1
B. Identifikasi Masalah ..............................................................................12
C. Pembatasan Masalah .............................................................................13
D. Rumusan Masalah .................................................................................14
E. Tujuan Penelitian ...................................................................................14
F. Manfaat Penelitian .................................................................................15
G. Definisi Operasional Variabel Penelitian...............................................16

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Deskripsi Teori ………………………………………………………..17
1. Pengertian Membaca..........................……………………………..17
2. Tujuan Membaca ….......................................……………………..20
3. Pembelajaran Membaca....................................................................20
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Membaca……………………..21
5. Jenis-jenis Membaca………………………………………………25
6. Membaca Pemahaman .....................................................................26
7. Teknik Skramble .............................................................................29
a. Pengertian Teknik Skrambel ....................................................30
b. Pembelajaran Membaca Pemahaman dengan Teknik Skrambel .................35
B. Kerangka Pikir ……………………………………………………..….37
C. Hipotesis Tindakan …………………………………………………...38

BAB III METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian ............................................................................39
B. Desain Penelitian …….....................................………………………..45
C. Subjek Penelitian ...................................................................................45
D. Setting Penelitian....................................................................................46
E. Teknik Pengumpulan Data ....................................................................47
F. Instrumen................................................................................................48
G. Teknik Analisis Data .............................................................................49
H. Indikasi Keberhasilan ............................................................................50

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Awal Data Penelitian .............................................................52
B. Perencanaan, Pelaksanaan, dan Hasil Tindakan Siklus I.......................52
1. Perencanaan Tindakan Siklus I........................................................55
2. Pelaksanaan Tindakan Siklus I.........................................................59
3. Observasi dan Monitoring................................................................59
4. Hasil Siklus I....................................................................................59
5. Refleksi dan Revisi rancangan Tindakan Siklus I............................60
a. Refleksi Tindakan Siklus I........................................................60
b. Revisi Rencana Tindakan Siklus I............................................63
C. Pelaksanaan dan Hasil Tindakan Siklus II...................................63
1. Pelaksanaan Tindakan Siklus II..................................................63
2. Hasil Siklus II.............................................................................67
3. Refleksi Tindakan Siklus II........................................................68
D. Pembahasan.................. ..............................................................70
E. Keterbatasan Penelitian..................................................................73
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN74
A. Kesimpulan ...................................................................................75
B. Saran .............................................................................................75

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 76
LAMPIRAN ................................................................................................78

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1   Kondisi Awal Kemampuan Membaca Pemahaman...................99
Lampiran 2 Daftar Nilai Kemampuan Membaca Pemahaman Siklus I ......... 106
Lampiran 3 Daftar Nilai Kemampuan Membaca Pemahaman Siklus II.......... 113
Lampiran 4 Lembar Pengamatan Perilaku Siswa dalam Proses Pembelajaran 120
Lampiran 5 Lembar Pengamatan Guru dalam Proses Pembelajaran ................121
Lampiran 6 Rekapitulasi Pengamatan .............................................................122
Lampiran 7 Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan I ................................123
Lampiran 8 Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan II ............................. 132
Lampiran 9 Rencana Pembelajaran Siklus II Pertemuan I ..............................140
Lampiran 10 Rencana Pembelajaran Siklus II Pertemuan II ...........................149
Lampiran 11 Surat Ijin Penelitian ...................................................................150



DAFTAR TABEL
Tabel 1 Kondisi Awal Kemampuan Membaca Pemahaman.............51
Tabel 2 Perbandingan Nilai Kondisi Awal dengan Siklus I Membaca Pemahaman......62
Tabel 3 Perbandingan Nilai Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II Membaca  Pemahaman.......69
Tabel 4 Rekapitulasi Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa...........70


DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 Kondisi Awal Kemampuan Membaca Pemahaman.............99
Lampiran 2 Daftar Nilai Kemampuan Membaca Pemahaman Siklus I ..106
Lampiran 3Daftar Nilai Kemampuan Membaca Pemahaman Siklus II..113
Lampiran 4 Lembar Pengamatan Perilaku Siswa dalam Proses Pembelajaran .........120
Lampiran 5 Lembar Pengamatan Guru dalam Proses Pembelajaran ......121
Lampiran 6 Rekapitulasi Pengamatan ....................................................122
Lampiran 7 Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan I .......................123
Lampiran 8  Rencana Pembelajaran Siklus I Pertemuan II ......................132
Lampiran 9 Rencana Pembelajaran Siklus II Pertemuan I ......................140
Lampiran 10 Rencana Pembelajaran Siklus II Pertemuan II ....................149
Lampiran 11 Surat Ijin Penelitian .............................................................150


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 PTK Model Kemmis dan Mc Taggart ................................41

DAFTAR GRAFIK
Grafik 1.1 Peningkatan Kemampuan Membaca Pemahaman Siswa pada Pra Siklus, Siklus I, dan Siklus II.........................71



BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia merupakan individu yang aktif, organisme social yang senantiasa berkembang dalam suatu sistem dengan berbagai aspek yang mempengaruhinya, sehingga berpengaruh pula dalam perkembangannya pada masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang. Dalam proses perkembangannya, banyak gejala, baik yang bersifat fisik maupun psikis yang bisa diperhatikan. Salah satu contoh yang mencolok ditilik dari fungsi manusia dalam suatu sistem adalah penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi antarindividu.
Penggunaan bahasa tutur yang sudah bermula sejak zaman purba mengalami perubahan dan perkembangan yang signifikan, hingga akhirnya runtuhlah peradaban primitif yang ditandai dengan digunakannya huruf-huruf dalam berbagai bentuk dan makna yang bisa dirangkai sehingga memilki arti. Peradaban baru ini juga membawa konsekuensi bagi anggota sistem di dalamnya. Dibutuhkan kemampuan dan keteranpilan untuk membaca dan memaknai tulisan yang dimaksudkan agar diketahui pula maksud dari tulisan tersebut. Bisa dibayangkan jika manusia tidak memiliki kemampuan untuk berbahasa dan atau memaknai bahasa yang digunakan dalam suatu sistem yang ditempatinya.

Dalam konteks kehidupan di Indonesia, bahasa Indonesia juga memiliki kedudukan dan fungsi yang sangat penting, yakni sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Pembinaan dan pengembangan terhadap bahasa Indonesia harus dilakukan secara mendalam dan berkesinambungan. Tanpa adanya pembinaan dan pengembangan, dikhawatirkan akan terjadi degradasi fungsi bahasa Indonesia dalam berbagai aspek khususnya fungsi bahasa Indonesia sebagai bahasa negara dan bahasa nasional. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi di era globalisasi, terjadi pula berbagai pergeseran-pergeseran yang menuntut perbaikan dan modifikasi pada berbagai aspek kehidupan. Berkembangnya ilmu pangetahuan dan teknologi informasi komunikasi menjadikan membaca sebagai kegiatan yang sentral dalam konteks kehidupan manusia modern. Hal ini terkait dengan kebutuhan pemahaman akan hal-hal baru yang berkaitan dengan perubahan-perubahan yang terjadi. Dari sinilah muncul semacam keharusan penguasaan keterampilan membaca. Akan tetapi, yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Lebih banyak orang yang cenderung acuh tak acuh bahkan meninggalkan membaca dan memilih menonton televisi, memainkan bermacam-macam game atau sekedar bermalas-malasan.
Menurut UNDP, United Nations Development Programme, angka melek huruf merupakan salah satu indikator untuk mengukur kualitas bangsa. Tinggi rendahnya angka melek huruf menentukan tinggi rendahnya indeks pembangunan manusia atau Human Development Index (HDI) dan tinggi rendahnya HDI menentukan kualitas bangsa. Dalam publikasi UNDP yang

terakhir, Human Development Report 2003, Indonesia ditempatkan di peringkat 112 dari 174 negara dalam hal kualitas bangsa. Di dalam daftar ini Indonesia berada di bawah Vietnam (109), Thailand (74), Malaysia (58), dan Brunei Darussalam (31). Menurut laporan Bank Dunia nomor 16369-IND dan Studi IAEA (International Association for the Evaluation of Education Achievement) di Asia Timur pada tahun 2000, kebiasaan membaca anak-anak Indonesia peringkatnya paling rendah di bawah Filipina, Thailand, Singapura, dan Hongkong (pearlatte.wordpress.com). Salah satu upaya yang sampai saat ini sudah ditempuh untuk membina dan mengembangkan bahasa Indonesia adalah melalui mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dimasukkan dalam kurikulum sebagai salah satu mata pelajaran wajib pada setiap jenjang pendidikan terutama pendidikan dasar. Pada jenjang pendidikan dasar yaitu di Sekolah Dasar, pendidikan mempunyai tujuan untuk memberikan bekal kemampuan dasar dari keterampilan membaca, menulis, menghitung, berbicara, dan keterampilan dasar lainnya yang bermanfaat bagi siswa.
Dalam Undang-Undang No.20 Tahun2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan , pengendalian diri, kepribadian kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bengsa dan negara (Sanjaya, 2006).

Keterampilan-keterampilan dasar yang diajarkan merupakan upaya yang dilakukan guna mempersiapkan siswa untuk memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Seperti tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, bahwa tujuan pendidikan dasar adalah meletakkan dasar kecerdasan, pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut. Pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia pada umumnya akan memuat empat komponen pokok keterampilan berbahasa, yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan keterampilan menulis. Keempat keterampilan berbahasa tersebut berhubungan erat satu dengan yang lain. Perkembangan tingkat penguasaan salah satu keterampilan berbahasa akan mempengaruhi penguasaan keterampilan bahasa yang lain. Pemerolehan dan penguasaan keempat keterampilan tersebut bersifat hierarkis, dimana pemerolehan keterampilan yang satu akan menjadi dasar penguasaan keteranpilan yang lain. Dua keterampilan yang menempati dasar piramida hierarki adalah menyimak dan berbicara. Kedua keterampilan ini umumnya didapatkan seseorang untuk pertama kalinya di lingkungan rumah. Dua keterampilan berbahasa yang berikutnya yakni membaca dan menulis diperoleh dari bangku sekolah. Kelas awal pada jenjang Sekolah Dasar merupakan wahana dimana kedua jenis keterampilan berbahasa yang terakhir ini dikembangkan secara optimal. Segala bentuk aktivitas pembelajaran bermuara pada proses pengembangan keterampilan membaca dan menulis.

Sekolah Dasar yang menjadi jenjang terbawah harus mampu mengarahkan program pembelajarannya agar siswa benar-benar menguasai keterampilan-keterampilan dasar yang wajib dimiliki oleh seorang siswa. Upaya tersebut merupakan tugas dan tanggung jawab seorang guru sebagai tenaga pendidik profesional . Dengan kata lain, guru Sekolah Dasar sudah seharusnya memilki kualifikasi dan kompetensi dalam memahamkan serta mendidik siswa agar dapat menguasai keterampilan membaca dengan baik. Penguasaan keterampilan membaca yang memadai akan memudahkan siswa dalam menempuh jenjang atau kelas yang lebih tinggi. Dalam setiap jenjang bisa dipastikan ada kompetensi yang tidak akan lepas dari keterampilan membaca. Keterampilan membaca untuk memahami bentuk-bentuk tertulis merupakan hal yang mendasar dan sangat diperlukan siswa dalam kegiatan belajarnya. Kemampuan ini tidak hanya untuk mempelajari mata pelajaran yang bersifat eksak,mata pelajaran noneksak pun sangat memerlukannya. Mata pelajaran noneksak pada umumnya disajikan secara ekspositoris dan panjang-panjang. Bila siswa tidak mampu memahaminya secara baik, maka materi yang disajikan terasa berat dan efek lebih jauh muncul adalah perasaan bosan untuk mempelajari materi-materi pelajaran.
Arisatul Umami (2008: 5) menyatakanPengajaran membaca di kelas awal pada jenjang Sekolah Dasar,yakni di kelas I dan II sepenuhnya ditekankan pada segi mekaniknya. Kemampuan membaca pada siswa kelas awal diartikan sebagai kemampuan untuk mengubah lambang-lambang tertulis menjadi bunyi-bunyi atau suara-suara yang memiliki makna tertentu.

Membaca hanya ditekankan pada hal-hal yang tersurat saja. Aspek pemahaman dan pemaknaan pada materi baca belum begitu diperhatikan. Akan tetapi hal tersebut tidak lantas bisa diabaikan begitu saja. Dominannya kegiatan membaca di kelas awal pada jenjang Sekolah Dasar terutama di kelas I dan II memunculkan anggapan bahwa ciri-ciri dari anak yang sudah mulai menduduki bangku sekolah adalah munculnya kemampuan membaca pada tahap permulaan. Meski saat ini sudah lazim dijumpai anak-anak kelas I dan II yang sudah lancar membaca dikarenakan sewaktu berada di Taman Kanak-kanak atau Playgroup sudah mendapatkan pembinaan keterampilan membaca, akan tetapi kemampuan membaca itu akan dikatakan merupakan ciri-ciri siswa Sekolah Dasar. Piaget (dalam Slamet Suryanto, 2005) berpendapat bahwa tahap perkembangan anak pada usia dua sampai tujuh tahun mulai menunjukkan proses berpikir yang lebih jelas. Anak menunjukkan kemampuannya melakukan permainan simbolis.
Perbendaharaan kosa kata anak meningkat dan cara anak-anak menggunakan kata serta kalimat bertambah kompleks menyerupai bahasa orang dewasa. Dari berbagai pelajaran yang diberikan di sekolah, bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain, serta melalui televisi dan radio, anak-anak menambah perbendaharaan kosa kata yang dipergunakan dalam percakapan dan tulisan. Dikemukakan pula oleh Seifert & Hoffnung dalam Desmita (2006:178-179) ketika anak masuk kelas satu sekolah dasar perbendaharaan kosa katanya sekitar 20.000 hingga 24.000 kata. Pada saat anak duduk di kelas enam, perbendaharaan kosa katanya meningkat mejadi sekitar 50.000 kata. Menurut Santrock (dalam Desmita, 2006:179) di samping peningkatan dalam jumlah perbendaharaan kosa kata, perkembangan bahasa anak usia sekolah juga terlihat dalam cara anak berpikir tentang kata-kata. Pada masa ini anak menjadi kurang terikat dengan tindakan-tindakan dan dimensi-dimensi perceptual yang berkaitan dengan kata-kata, serta pendekatan yang digunakan menjadi lebih analistis terhadap kata-kata. Peningkatan kemampuan anak usia sekolah dasar dalam menganalisis kata-kata, akan membantu dalam memahami kata-kata yang tidak berkaitan langsung dengan pengalaman yang pernah dialami. Hal ini memungkinkan anak menambah jumlah kosa kata yang lebih abstrak ke dalam perbendaharaan kata yang dikuasai. Dikatakan Desmita (2006:179)., bahwa peningkatan kemampuan analistis terhadap kata-kata juga disertai dengan kemajuan dalam tata bahasa. Anak usia 6 tahun sudah menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Dari usia 6 hingga 9 atau 10 tahun, panjang kalimat semakin bertambah. Setelah usia 9 tahun, secara bertahap anak mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan padat, serta dapat menerapkan berbagai aturan tata bahasa dengan tepat.
Pembinaan dan pengembangan keterampilan berbahasa yang berawal di kelas rendah tentunya akan terus berlanjut. Di kelas lanjut dan kelas tinggi

fungsi dari keterampilan berbahasa tersebut akan semakin kompleks. Fungsi keterampilan dasar akan bergeser pada fungsi keterampilan terapan yang mendukung proses pembelajaran karena tuntutan materi atau bahan ajar yang semakin kompleks pula. Di kelas tinggi materi pelajaran baik yang eksak maupun noneksak pada umumnya hanya disampaikan secara ekspositoris dan bahasa penyampaian yang digunakan juga panjang-panjang sehingga sulit dipahami. Ketidakmampuan siswa dalam memahami teks materi yang tersaji akan membuat siswa cenderung tidak menyukai pelajaran itu. Hal ini tentu akan berdampak pada perolehan nilai serta pemahaman tentang materi yang disajikan. Di kelas tinggi, kemampuan siswa dalam membaca teks, materi soal ataupun pertanyaan-pertanyaan idealnya sudah berpredikat lancar. Pada umumnya tidak akan ditemui siswa yang masih berkesulitan membaca di kelas tinggi. Namun, kemampuan membaca yang berpredikat lancar itu tidak akan berdampak lebih bila tidak didukung dengan kemampuan untuk memahami teks, materi, wacana, dan atau pertanyaan-pertanyaan yang dibaca.
Kurangnya kemampuan pemahaman yang dimiliki siswa tentu akan berpengaruh pada perolehan kepahaman terhadap suatu materi. Dampak praktisnya adalah rendahnya nilai yang diperoleh siswa. Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan pun akan sulit untuk dicapai, bahkan mungkin berada jauh di bawahnya. Hal ini akan bertambah buruk bila metode pembelajaran yang diterapkan oleh guru juga kurang tepat dan cenderung menempatkan siswa sebagai obyek belajar, bukan subyek belajar.

Kenyataan umum yang kerap kali dijumpai di sekolah dasar sekarang ini adalah anggapan, baik dari guru maupun siswa, bahwa mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah mata pelajaran yang mudah. Mata pelajaran yang tidak perlu dipelajari, baik konsep maupun penerapannya, sehingga waktu yang ada lebih baik digunakan untuk membahas materi lain yang dinggap lebih sulit, misalnya matematika atau Ilmu Pengetahuan Sosial. Sugesti ini tentu akan mempengaruhi gairah belajar siswa, sehingga akan berpengaruh pula pada proses belajar mengajar dan interaksi yang terjadi di dalam kelas. Hal ini tentu tidak benar, mengingat muatan-muatan yang terkandung dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia secara tidak langsung akan berpengaruh pada mata pelajaran yang lain. Keterampilan membaca misalnya. Salah satu unsur pokok kebahasaan ini akan selalu ada dan dimanfaatkan dalam setiap mata pelajaran yang dipelajari siswa. Tujuan dari membaca pada setiap mata pelajaran juga akan berbeda-beda, tergantung kompetensi yang diusung tiap mata pelajaran tersebut. Dengan demikian, pemanfaatan tujuan dari kegiatan membaca dan penggunaan metode mengajar merupakan aspek yang utama serta perlu mendapat perhatian lebih, di samping aspek lain yang juga tidak kalah penting tentunya. Kesesuaian antara penggunaan metode dengan pemanfaatan tujuan membaca tersebut akan membantu guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan dari proses pembelajaran.
Secara umum, tujuan membaca menurut Nurhadi (1987: 11) adalah: (1) mendapatkan informasi, (2) memperoleh pemahaman, (3) memperoleh kesenangan. Secara khusus, tujuan membaca adalah: (1) memperoleh informasi faktual, (2) memperoleh keterangan tentang sesuatu yang khusus dan problematis, (3) memberikan penilaian kritis terhadap karya tulis seseorang, (4) memperoleh kenikmatan emosi, dan (5) mengisi waktu luang. Sedangkan menurut Tarigan (1979:9), tujuan utama membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi, memahami makna bacaan. Berdasarkan uraian tersebut, dapat dikemukakan bahwa salah satu tujuan pokok dari kegiatan membaca adalah memperoleh kepahaman dari apa yang dibaca. Dengan kata lain, kegiatan membaca yang dilakukan tidak akan bermakna bila tidak disertai dengan pemahaman tentang substansi atau materi yang dibaca. Membaca bukan hanya sekedar kegiatan membunyikan lambang-lambang bahasa tulis, mulai dari huruf-huruf sehingga menjadi kata, kemudian frasa kalimat, dan seterusnya. Aspek pemahaman tentang makna dan substansi dari apa yang dibaca juga penting untuk diperhatikan. Bila aspek pemahaman ini diabaikan, bisa dikatakan bahwa mambaca merupakan suatu hal yang bersifat pasif.
Kenyataan yang terjadi di lapangan, khususnya di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Plumbon, kecamatan Temon, kabupaten Kulon Progo, sangat bertolak belakang. Kemampuan pemahaman siswa sangat rendah, jauh di bawah rata-rata. Mayoritas siswa kelas IV cenderung tidak menyukai kegiatan membaca pemahaman. Padahal sebagian besar materi yang ada merupakan materi yang membutuhkan pemahaman. Dari hasil pengamatan nilai mata pelajaran Bahasa Indonesia pada hasil ujian tengah semester yang dilaksanakan pada 16 Maret 2010, terlihat bahwa hampir sebagian besar soal yang memuat pertanyaan pemahaman bacaan tidak dapat dijawab oleh sisiwa. Hal ini menarik untuk dikaji, sehingga diharapkan ditemukan solusi atau pendekatan yang mungkin bisa diterapkan untuk menanggapi fenomena ini. Pemilihan dan penerapan metode pembelajaran bisa dijadikan salah satu alternatif sebagai upaya untuk meminimalkan potensi yang lebih buruk dari fenomena tersebut. Dalam hal ini, teknik Skramble akan dicoba untuk diterapkan pada pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya untuk meningkatkan keterampilan membaca pemahaman.

Teknik skramble merupakan teknik permainan yang berupa aktivitas menyusun kembali atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya telah dikacaubalaukan. Beberapa macam teknik skramble yang dikenal menurut pendapat Suparno (1998: 76) yaitu: (1) scramble kata (2) scramble kalimat (3) scramble paragraf, dan (4) scramble wacana. Mengaplikasikan prinsip dari sejenis permainan sederhana kemudian konsepnya digunakan untuk kepentingan pembelajaran Bahasa Indonesia, khususnya membaca. Serangkaian aktivitas diarahkan agar siswa aktif berlatih untuk menyusun sesuatu sehingga memiliki makna tertentu. Dalam kaitannya dengan pengajaran membaca, siswa diarahkan untuk berlatih menyusun suatu organisasi tulisan, kata, dan atau kalimat yang sengaja dikacaukan agar menjadi kata atau kalimat yang utuh dan bermakna. Hal ini memungkinkan siswa untuk berkreasi menebak bentuk yang sebenarnya atau justru menemukan susuna baru yang lebih baik dari bentuk yang sudah ada. Berdasarkan pemaparan konsep pelaksanaan tersebut, maka aplikasi teknik skramble dalam upaya pengajaran membaca pemahaman diupayakan dengan prinsip bermain sambil belajar, bukan belajar sambil bermain. Mengingat dalam aktivitasnya, siswa akan condong pada bermain. Prinsip tersebut juga memungkinkan adanya unsur rekreasi bagi siswa, selain proses belajar dan berpikir yang menjadi fokusnya.

B. Identifikasi Masalah
Membaca sebagai suatu proses psikologis, memiliki beberapa faktor internal yang berkaitan erat dengan proses membaca, diantaranya intelegensia, usia, mental, bahasa, kepribadian, sikap, kemampuan persepsi dan tingkat kemampuan membaca anak. Sedangkan faktor eksternal yang sering dikaitkan dengan keterampilan membaca adalah faktor sosial ekonomi. Kenyataan menyebutkan siswa-siawi kelas IV SD Negeri Plumbon berasal dari golongan ekonomi menengah ke bawah mempunyai kemampuan membaca pemahaman yang rendah. Kurangnya minat membaca tersebut akan mempengaruhi perolehan nilai siswa dalam berbagai mata pelajaran. Hal ini disebabkan kurangnya kemampuan memahami materi sebagai akibat dari kurangnya minat membaca tersebut. Masalah-masalah yang teridentifikasi tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut.

1. Kurangnya minat membaca siswa yang berdampak pada kurang optimalnya perolehan nilai pada berbagai mata pelajaran.
2. Kurangnya kesadaran akan pentingnya membaca pemahaman.
3. Penggunaan metode dalam menyampaikan pembelajaran yang kurang tepat.
4. Sikap siswa dalam kegiatan pembelajaran yang cenderung acuh tak acuh.
5. Upaya guru dalam memotivasi siswa untuk belajar kurang.

C. Pembatasan Masalah
Dalam hal ini, membaca pemahaman bukanlah satu-satunya faktor penentu atau penyebab rendahnya prestasi siswa yang diindikasikan dengan rendahnya nilai siswa. Banyak faktor lain yang turut berperan dalam konteks fenomena seperti ini. Dari kompleksnya masalah tersebut, maka penelitian hanya akan dipusatkan pada segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan teknik skramble pada siswa kelas IV SD Negeri Plumbon, kecamatan Temon, kabupaten Kulon Progo, yang mencakup pelaksanaannya, hasil penerapan dan seberapa signifikan peningkatan yang terjadi setelah penerapan teknik skramble tersebut.

D. Rumusan Masalah
Penekanan akan pentingnya kemampuan membaca pemahaman bukan berarti menjadikan membaca pemahaman sebagai fokus utama dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar di sekolah dasar. Akan tetapi, dalam penelitian ini hanya akan mengkaji segala sesuatu yang berkaitan dengan upaya peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan teknik skramble. Berdasarkan pembatasan masalah tersebut, maka dapat dirumuskan permasalahan, yaitu “Bagaimana peningkatan kemampuan membaca pemahaman dengan teknik skramble pada siswa kelas IV SD Negeri Plumbon?”

E. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan yang ada, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD Negeri Plumbon tahun ajaran 2009/2010 setelah digunakan teknik skramble, serta memberikan gambaran secara konkret tentang penggunaan teknik Skramble.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat secara praktis dan teoritis.
1. Manfaat Praktis
Hasil penelitian secara langsung akan bermanfaat bagi guru dan siswa. Guru dapat meningkatkan prestasi mengajar dengan menampilkan metode menyampaikan materi yang bervariasi, serta menghilangkan kejenuhan dalam mendampingi dan membimbing siswa dalam upaya
penguasaan bahan ajar. Siswa mendapatkan masukan dan cara baru dalam upaya memahami suatu bahan ajar dengan teknik yang efektif. Disamping manfaat di atas, penggunaan teknik skrambel ternyata mampu mengubah perilaku siswa. Dengan cara ini, sikap positif siswa dalam proses belajar mengajar dapat ditumbuhkembangkan dengan optimal. Sedangkan sikap negatif, acuh tak acuh, atau bahkan sikap malas dan masa bodoh terhadap pelajaran dapat ditekan sekecil mngkin dengan harapan akan terjadi peningkatan kualitas pembelajaran berbahasa Indonesia di sekolah dapat direalisasikan.

2. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dan acuan bagi peneliti lain di tempat dan pelajaran yang berbeda, agar dapat mengembangkan model-model atau teknik baru yang lebih inovatif atas dasar penelitian ini, sampai ditemukannya teknik yang paling efektif diterapkan dalam pembelajaran membaca pemahaman pada khususnya.

G. Definisi Operasional Variabel
Definisi dari variabel-variabel penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kemampuan membaca pemahaman merupakan kemampuan untuk membaca dengan baik dan teliti dengan tujuan mengerti serta memahami isi atau makna dari apa yang dibaca.
2. Teknik Skramble adalah salah satu teknik pembelajaran membaca yang dimodifikasi dari sebuah permainan menyusun suatu organisasi yang telah dikacaubalaukan sebelumnya. Teknik permainannya berupa aktivitas penyusunan kembali atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya telah dikacaubalaukan sebelumnya dengan maksud menemukan jawaban yang dimaksudkan berdasarkan pemahaman yang didapatkan dari membaca.



BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teori
1. Pengertian Membaca
Melek huruf merupakan salah satu indikator untuk mengukur kualitas pendidikan suatu negara. Semakin tinggi angka melek huruf, maka bisa diprediksi bahwa negara tersebut akan memiliki kualitas pendidikan yang tinggi pula. Hal ini diperkuat dengan adanya fakta di lapangan bahwa dalam masyarakat di negara maju akan selalu ditemukan budaya membaca yang tinggi. Namun sebaliknya, angka gemar membaca yang rendah dari suatu negara, yang diindikasikan dengan rendahnya minat untuk membaca juga akan memperburuk keadaan pendidikan di negara tersebut. Membaca merupakan keterampilan berbahasa yang berhubungan dengan keterampilan berbahasa yang lain. Di dalam aktivitas membaca terdapat suatu proses aktif yang bertujuan dan memerlukan strategi. Hodgson (dalam Tarigan, 1979:7) mengemukakan bahwa membaca ialah suatu proses yang dilakukan serta digunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan yang disampaikan penulis melalui media bahasa tulis. Selain aspek proses yang diusung, ada pula aspek tujuan yang menyertai proses membaca ini.
Membaca ialah proses pengolahan bacaan secara kritis, kreatif yang dilakukan dengan tujuan memperoleh pemahaman yang bersifat menyeluruh tentang bacaan itu, dan penilaian terhadap keadaan, nilai, fungsi, dan dampak bacaan itu. Definisi ini sesuai dengan membaca pada tingkat lanjut, yakni membaca kritis dan membaca kreatif, (dalam Tarigan, 1979:12). Hal ini semakin menguatkan asumsi bahwa membaca bukanlah proses penyandian lambang-lambang bahasa sehingga memiliki makna saja. Akan tetapi pemahaman terhadap apa yang tersirat juga merupakan hal yang penting. Anderson (dalam Tarigan 1979:7) berpendapat bahwa membaca dari segi linguistik adalah proses penyandian kembali dan pembacaan sandi yang mencakup proses menghubungkan kata-kata tulis dengan makna bahasa lisan untuk mengubah tulisan atau cetakan menjadi bunyi yang bermakna. Hal ini sesuai dengan membaca pada level rendah. Finochiaro dan Bonono (dalam Tarigan, 1979:9) menyatakan bahwa membaca adalah proses memetik serta memahami arti/makna yang terkandung dalam bahasa tulis. Batasan ini tepat dikenakan pada membaca literal. Mengacu pada beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah upaya untuk membunyikan lambang bahasa agar memiliki makna dengan menyertakan aspek pemahaman terhadap makna atau isi dari apa yang telah dibaca. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memiliki makna melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau dalam hati). Sedangkan Klein, dkk (dalam Rahim, 2005:3) mengemukakan bahwa definisi membaca mencakup: 1) membaca merupakan proses, 2) membaca adalah strategis, dan 3) membaca merupakan interaktif.
Membaca pada hakikatnya adalah suatu yang rumit yang melibatkan banyak hal, tidak hanya sekedar melafalkan tulisan, tetapi juga melibatkan aktivitas visual, berfikir, psikolinguistik, dan metakognitif. Sebagi proses-proses visual membaca merupakan proses menterjemahkan simbol tulis (huruf) ke dalam kata-kata lisan. Sebagai proses berfikir, membaca mencakup aktivitas pengenalan kata, pemahaman literal, interprestasi, membaca kritis dan pemahaman kreatif. Pengenalan kata bisa berupa aktivitas membaca kata-kata enggunakan kamus, Crawley dan Mountain (dalam Rahim, 2005: 2). Kegiatan membaca bukan hanya kegiatan mekanis saja, melainkan merupakan kegiatan menangkap maksud dari kelompok-kelompok kata yang mengandung makna. Membaca pada hakikatnya adalah suatu proses yang bersifat fisik dan psikologis. Proses yang berupa fisik berupa kegiatan mengamati tulisan secara visual dan merupakan proses mekanis dalam membaca. Proses mekanis tersebut berlanjut dengan proses psikologis yang berupa kegiatan berpikir dalam mengolah informasi. Proses pskologis itu dimulai ketika indera visual mengirimkan hasil pengamatan terhadap tulisan ke pusat kesadaran melalui sistem syaraf. Melalui proses decoding gambar-gambar bunyi dan kombinasinya itu kemudian diidentifikasi, diuraikan, dan diberi makna. Proses decoding berlangsung dengan melibatkan pengetahuan tentang kata dan istilah dalam skemata yang berupa kategorisasi sejumlah pengetahuan dan pengalaman yang tersimpan dalam gudang ingatan. Dengan demikian, membaca merupakan suatu proses yang melibatkan aspek fisik dan psikologis untuk memperoleh informasi dan pengetahuan yang dipengaruhi oleh pengalaman serta pemahaman yang telah diperoleh sebelumnya.
2. Tujuan Membaca Ada beberapa tujuan membaca menurut Anderson (dalam Tarigan, 1979:9–10). “(1) menemukan atau mengetahui penemuan-penamuan yang telah dilakukan oleh tokoh, (2) menemukan gagasan utama, (3) menemukan urutan atau organisasi bacaan, (4) menyimpulkan, (5) mengklasifikasikan, (6) menilai, dan (7) membandingkan atau mempertentangkan”. Sementara menurut Tarigan (1979: 9), tujuan membaca adalah untuk mencari serta memperoleh informasi, mencakup isi dan memahami makna bacaan. Hubungan antara tujuan membaca dengan kemampuan membaca sangat signifikan. Pembaca yang mempunyai tujuan yang sama, dapat mencapai tujuan dengan cara yang berbeda-beda. Tujuan membaca mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam membaca karena akan berpengaruh pada proses membaca dan pemahaman membaca.
3. Pembelajaran Membaca
Tiga istilah sering digunanakan untuk memberikan komponen dari proses membaca, yaitu recording, decoding dan meaning. Recording merujuk pada kata-kata dan kalimat, kemudian mengasosiasikannya dengan bunyi-bunyinya sesuai dengan sistem tulisan yang digunakan, sedangkan proses decoding (penyandian) merujuk pada proses penerjemahan rangkaian grafis ke dalam kata-kata. Proses decoding dan recording biasanya berlangsung pada kelas-kelas awal yaitu SD kelas (I, II, dan III) yang dikenal dengan membaca permulaan. Penekanan pada membaca tahap ini ialah proses preseptual, yaitu pengenalan korespondensi rangkaian huruf
dengan bunyi-bunyi bahasa. Sementara itu proses memahami makna (meaning) lebih ditekankan dikelas-kelas tinggi SD, Syafi’ie (dalam Rahim, 2005: 2). Disamping keterampilan decoding, pembaca juga harus memiliki keterampilan memahami makna (meaning). Pemahaman makna berlangsung melaui berbagai tingkat, mulai dalam tingkat pemahaman literal, sampai pada pemahaman interpretatif, kreatif, dan eavaluatif. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa membaca merupakan gabungan proses preseptual dan kognitif.
4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Membaca
Banyak faktor yang mempengaruhi kemampuan membaca, baik membaca permulaan maupun membaca lanjut (membaca pemahaman). Faktor-faktor yang mempengaruhi membaca permulaan menurut Lamb dan Arnold (dalam Farida Rahim, 2005) ialah faktor fisiologis, intelektual, lingkungan dan psikologis.
a) Faktor Fisiologis
Faktor fisiologis mencakup kesehatan fisik, pertimbangan neurologis, dan jenis kelamin. Kelelahan juga merupakan kondisi yang tidak menguntungkan bagi anak untuk belajar, khususnya belajar membaca. Beberapa ahli mengemukakan bahwa keterbatasan neurologis (misalnya berbagai cacat otak) dan kekurangmatangan secara fisik merupakan salah satu faktor yang menyebabkan anak gagal dalam meningkatkan kemampuan membaca pemahaman mereka.
Gangguan pada alat bicara, alat pendengaran, dan alat penglihatan bisa memperlambat kemampuan belajar membaca anak. Analisis bunyi, misalnya, mungkin sukar bagi anak yang mempunyai masalah pada alat bicara dan alat pendengaran. Selain gangguan yang terjadi pada indra yang berkaitan dengan membaca, kesukaran belajar membaca dapat terjadi karena belum berkembangnya kemampuan anak dalam membedakan simbol-simbol cetakan seperti huruf-huruf, angka-angka, dan kata-kata, misalnya anak belum bisa membedakan b, p dan d. Perbedaan pendengaran (auditory discrimination) adalah kemampuan mendengarkan kemiripan dan perbedaan bunyi bahasa sebagai faktor penting dalam menentukan kesiapan membaca anak.
b) Faktor Intelektual
Penelitian Ehansky, 1963 dan Muchl dan Forrell 1973 (dalam Semiawan (1999) menunjukkan bahwa secara umum ada hubungan positif (tetapi rendah) antara kecerdasan yang diindikasikan oleh IQ dengan rata-rata peningkatan remedial membaca. Pendapat ini sesuai yang dikemukakan oleh Desmita (2006) bahwa banyak hasil penelitian memperlihakan tidak semua siswa mempuanyai kemampuan intelegensi tinggi menjadi pembaca yang baik. Secara umum, intelegensi anak tidak sepenuhnya mempengaruhi berhasil atau tidaknya anak dalam membaca permulaan.
c) Faktor Lingkungan
Lingkungan yang dapat mempengaruhi kemajuan kemampuan belajar membaca siswa adalah sebagai berikut.
1. Latar belakang dan pengalaman anak di rumah.
Desmita (2006) mengemukakan bahwa orang tua yang hangat, demokratis, bisa mengarahkan anak-anak mereka pada kegiatan yang berorientasi pendidikan, suka menantang anak untuk berfikir dan suka mendorong anak untuk mandiri merupakan orang tua yang sikapnya dibutuhkan oleh anak sebagai persiapan yang baik untuk belajar disekolah. Rumah juga berpengaruh pada sikap anak terhadap buku dan membaca. Orang rua yang gemar membaca, memiliki koleksi buku, menghargai membaca, dan senang membacakan cerita kepada anak-anak mereka umumnya menghasilkan anak yang senang membaca. Orang tua yang mempunyai minat yang besar terhadap kegiatan sekoklah dimana anak-anak mereka belajar, dapat memacu sikap positif anak terhadap belajar, khususnya belajar membaca. Kualitas dan luasnya pengalaman anak di rumah juga penting dalam kemajuan belajar membaca. Membaca seharusnya merupakan suatu kegiatan yang bermakana. Pengalaman masa lalu anak memungkinkan mereka dalam memahami bacaan.
2. Sosial ekonomi.
Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa astatus sosioekonomi siswa mempengaruhi memampuan verbal siswa.
Semakin tinggi status sosioekonomi siswa semakin tinggi kemampuan verbal siswa. Anak-anak yang memiliki contoh bahasa yang baik dari orang dewasa serta orang tua yang berbicara dan mendorong anak-anak mereka berbicara akan mendukung perkembangan bahasa dan intelegensi anak. Anak-anak yang berasal dari rumah yang memberikan banyak kesempatan membaca, dalam lingkungan yang penuh dengan bahan bacaan yang beragam akan mempunyai kemampuan membaca yang tinggi.
d) Faktor Psikologis.
1. Motivasi
Motivasi adalah faktor kunci dalam belajar membaca. Earnes (dalam Farida Rahim, 2005: 19) mengemukakan bahwa kunci motivasi itu sederhana, tatapi tidak mudah untuk mencapainya. Kuncinya adalah guru harus mendemonstrasikan kepada siswa praktik pengajaran yang relevandengan minat dan pengalaman anak sehingga anak memehami belajar itu sebagai suatu kebutuhan.
2. Minat
Minat adalah keinginan kuat disertai usaha-usaha seseorang untuk membaca. Orang yang mempunyai minat membaca yang kuat akan diwujudkan dalam kesediaanya untuk mendapat bahan bacaan dan kemudian membacanya atas kesadaran sendiri.
3. Kematangan sosio dan emosi serta penyesuaian diri
Tiga aspek kematangan sosio emosi dan sosial, yaitu: 1) stabilitas emosi, 2) kepercayaan diri, dan kemampuan berpartisipasi dalam kelompok. Seseorang siswa harus mempunyai pengontrolan emosi pada tingkat tertentu. Anak-anak yang mudah marah, menangis dan bereaksi secara berlebihan ketika mereka tidak mendapatkan sesuatu, atau menarik diri, atau mendongkol akan mendapat kesulitan dalam pelajaran membaca. Sebaliknya anak-anak yang lebih mudah mengontrol emosinya, akan lebih mudah memusatkan perhatiannya pada teks yang dibacanya. Pemusatan perhatian pada bahan bacaaan memungkinkan kemajuan kemampuan anak dalam memahami bacaan akan meningkat. Percaya diri sangat dibutuhkan oleh anak-anak. Anak-anak yang kurang percaya diri di dalam kelas, tidak akan bisa mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya walaupun tugas itu sesuai dengan kemampuannya. Mereka sangat bergantung pada orang lain sehingga tidak bisa mengikuti kegiatan mandiri dan selalu meminta untuk diperhatikan guru. 5. Jenis-jenis Membaca
Tarigan (1979:12-13) berpendapat bahwa kegiatan membaca dibedakan ke dalam jenis membaca bersuara atau membaca nyaring (oral reading atau reading aloud) dan membaca dalam hati (silent reading).
26
Pengelompokkan ini didasarkan pada perbedaan tujuan yang hendak dicapai. Jenis pertama dapat digunakan untuk mencapai penguasaan hal-hal yang bersifat mekanis seperti pengenalan bentuk huruf dan unsur-unsur linguistik. Jenis kedua ini sesuai dengan tujuan membaca yang bersifat pemahaman. Selanjutnya kegiatan membaca dalam hati dibedakan lagi menjadi kegiatan membaca ekstensif, yang meliputi kegiatan survey (survey reading), membaca sekilas (skimming), dan membaca dangkal (superficial reading), dan kegiatan membaca intensif. Kegiatan membaca intensif ini meliputi kegiatan membaca telaah isi serta membaca telaah bahasa. Kegiatan membaca yang bersifat telaah isi masih dapat dikelompkkan lagi menjadi kegiatan membaca teliti, membaca pemahaman, membaca kritis dan membaca ide-ide, sedangkan kegiatan membaca yang bersifat telaah bahasa meliputi kegiatan membaca bahasa dan membaca sastra. Berdasarkan pengelompokkan di atas, maka dapat diambil kesimpulan bahwa membaca pemahaman terdapat dalam lingkup membaca telaah isi yang tujuan utamanya adalah pemahaman dan penguasaan terhadap informasi serta hal-hal penting yang termuat dalam sebuah informasi tertulis berupa teks bacaan.
6. Membaca Pemahaman
Membaca pemahaman menurut Tarigan (1979:58) merupakan sejenis membaca yang bertujuan untuk memahami standar-standar atau norma-norma kesastraan (literary standards), resensi kritis (critical review), drama tulis (primed drama), serta pola-pola fiksi (pattenrs of fiction). Pemahaman yang dimaksudkan bukanlah pemahaman yang sifatnya mekanis saja. Akan tetapi mengandung makna dimana pembaca dapat memetik makna dan informasi yang tersirat serta yang tersurat dari apa yang dibaca. Seperti halnya bidang kajian yang lain, tingkat pemahaman dalam kegiatan membaca juga bisa dikethui melalui pengukuran. Pengukuran tersebut bisa dilakukan dengan suatu tes. Dalam hal ini, teknik pengukuran yang sering digunakan antara lain adalah dengan menggunakan bentuk betul-salah, melengkapi kalimat, pilihan ganda, pembuatan ringkasan, cloze test, C-test, dan lain-lain, Iskandarwassid dkk (2008:247). Teknik yang paling umum digunakan adalah format bentuk tes pilihan ganda. Namun demikian, format tes ini sering tidak valid, karena jawaban benar bisa diperoleh melalui lebih dari satu cara, misalnya dengan menebak. Hal ini yang menimbulkan keraguan terhadap kemampuan membaca pemahaman. Dalam membaca pemahaman terdapat urutan tingkatan pemahaman adalah sebagai berikut.
a. Tingkat pemahaman yang pertama adalah pemahaman literal, artinya pembaca hanya memahami makna apa adanya, sesuai dengan makna simbol-simbol bahasa yang ada dalam bacaan.
b. Tingkat pemahaman kedua adalah pemahaman interpretasi. Pada tingkat ini pembaca sudah mampu menangkap pesan secara tersirat. Artinya di samping pesan-pesan secar tersurat seperti pada tingkat pemahaman literal, pembaca juga dapat memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan.
c. Tingkat pemahaman ketiga adalah pemahaman kritis, kegiatan membacanya disebut dengan membaca kritis. Pada tingkat ini, pembaca tidak hanya mampu menangkap makna tersurat dan tersirat. Pembaca pada tingkat ini mampu menganalisis dan sekaligus membuat sintesis dari informasi yang diperolehnya melalui bacaan. Di samping itu pembaca juga mampu melakukan evaluasi atau penilaian secara akurat. Artinya, pembaca tahu persis akan kebenaran atau kesalahan isi wacana berdasarkan pengetahuan dan data-data yang dimilikinya tentang informasi yang ada dalam bacaan. Pembaca pada tingkat ini sudah mampu membuat kritik terhadap satu bacaan atau sebuah buku.
d. Tingkat pemahaman tertinggi adalah pemahaman kreatif. Pembaca tingkat ini memiliki pemahaman lebih tinggi dari ketiga tingkat sebelumnya. Selesai membaca, pembaca akan mencoba atau bereksperimen membuat sesuatu yang baru berdasarkan isi bacaan.
Dengan demikian, membaca pemahaman menekankan pada aspek pemahaman serta penguasaan pembaca terhadap bacaan secara menyeluruh, baik yang tersurat maupun yang tersirat.
7. Teknik Skramble a. Pengertian Teknik Skramble. Istilah “Skramble” berasal dari bahasa Inggris “scramble”yang dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia yaitu perebutan, pertarungan, perjuangan. Teknik “skramble” biasanya dipakai oleh anak-anak sebagai permainan yang pada dasarnya merupakan latihan pengembangan dan peningkatan wawasan pemilikan kosakata-kosakata dan huruf huruf yang tersedia. Teknik permainan ini pada prinsipnya menghendaki siswa supaya melakukan penyusunan atau pengurutan suatu struktur bahasa yang sebelumnya dengan sengaja telah dikacaukan susunannya. Berdasarkan sifat jawabannya, skramble terdiri atas bermacam macam bentuk.
1) Skramble kata, yakni sebuah permainan yang menyusun kata-kata dari huruf-huruf yang telah dikacaukan letak huruf-hurufnya sehingga membentuk suatu kata tertentu yag bermakna. Misalnya dari huruf-huruf:
lewerkala menjadi kelelawar opmketru menjadi komputer.
2) Skramble Kalimat, yakni sebuah permainan menyusun kalimat dari kata-kata acak. Bentukan kalimat dimaksud hendaknya logis, bermakna, tepat dan benar.
3) Skramble Wacana, yakni sebuah permainan menyusun wacana logis berdasarkan kalimat atau paragraf acak. Hasil susunan wacana dalam permainan skrambel hendaknya logis dan bermakna, Budi Nuryanto, dkk (1998:11).
b. Pembelajaran Membaca Pemahaman dengan Teknik Skramble Skramble adalah salah satu permainan bahasa yangpada hakikatnya merupakan suatu aktivitas untuk memperoleh keterampilan tertentu dengan cara yang menggembirakan (Suparno 1998:60). Dengan bermain siswa akan memperoleh kegembiraan atau kesenangan,selain itu keterampilan tertentu akan diperolehnya dengan tidak sengaja. Dalam setiap permainan terdapat unsur rintangan dan tantangan yang harus dihadapi dan dipecahkan. Secara tidak langsung permainan juga dapat memupuk berbagai sifat yang positif misalnya solidaritas, sportivitas, kreativitas, dan rasa percaya diri. Selain kelebihan di atas ada kelemahan dalam permainan, yaitu tidak baik untuk evaluasi hasil belajar siswa sebab mengandung unsur spekulasi yang besar. Siswa yang menang belum tentu siswa yang pandai. Secara rinci kelebihan dan kekurangan permainan bahasa adalah sebagai berikut. 1) Kelebihan a) Permainan bahasa merupakan media pengajaran bahasa yang cocok untuk penerapan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Aktivitas yang dilakukan siswa dalam permainan bahasa ini bukan saja aktivitas fisik, tetapi juga aktivitas mental.
b) Permainan bahasa dapat dipakai untuk membangkitkan kembali gairah belajar siswa yang sudah mulai lesu.c) Sifat kompetitif yang ada dalam permainan dapat mendorong siswa berlomba-lomba maju. d) Selain untuk menimbulkan kegembiraan dan melatih ketrampilan tertentu, permainan bahasa juga dapat memupuk rasa solidaritas (terutama untuk permainan beregu). e) Materi yang dikomunikasikan lewat permainan bahasa biasanya mengesan sehingga sulit dilupakan. 2) Kekurangan a) Pada umumnya jumlah siswa dalam satu kelas terlalu besar. Hal tersebut akan menimbulkan kesulitan untuk melibatkan seluruh siswa dalam permainan. Siswa yang tidak terlibat itu justru mengganggu permainan yang sedang berlangsung. b) Tidak semua materi pelajaran dapat dikomunikasikan lewat media permainan. c) Permainan bahasa biasanya menimbulkan suara gaduh. Hal tersebut jelas akan mengganggu kelas yang berdekatan. d). Banyak yang memperlakukan permainan bahasa sebagai kegiatan untuk mengisi waktu kosong saja. e) Permainan bahasa banyak mengandung unsur spekulasi. Siswa yang menang dalam suatu permainan belum dapat dijadikan ukuran bahwa siswa tersebut lebih pandai daripada siswa lain (Suparno 1998:64-65).

Berdasarkan kelebihan dan kekurangan dalam permainan bahasa di atas, teknik skramble dapat dimanfaatkan untuk kepentingan membaca pemahaman. Dalam pengajaran membaca pemahaman anak diajak untuk berlatih menyusun suatu organisasi tulisan yang secara sengaja sebelumnya dikacaukan, anak diminta menata ulang susunan tulisan yang kacau menjadi suatu organisasi tulisan yang utuh dan bermakna. Teknik skramble ini dapat melatih anak memprediksi jalan pikiran tulisan aslinya dan melatih anak berkreasi dengan susunan baru yang mungkin lebih baik. Menurut Suparno (1998), secara umum rambu-rambu pembelajaran dengan teknik skramble ini terbagi ke dalam tiga kegiatan, yakni: (1) persiapan, (2) kegiatan inti, dan (3) kegiatan tindak lanjut. a. Persiapan Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam persiapan ini adalah sebagai berikut. 1) Menyiapkan teks bacaan,kemudian keluarkan paragraf/kata ke dalam kartu paragraph/kata. Idealnya guru menyiapkan kartu-kartu paragraph/kata sebanyak kelompok siswa yang ada. Bila hal ini tidak memungkinkan, guru cukup menyiapkan kartu-kartu satu set, selanjutnya setiap kelompok siswa membuat kartu-kartu paragraf/kata sejenis sendiri. 2) Setiap kartu hanya mengandung satu paragraf/kata. 3) Kartu-kartu paragraf/kata diberi nomor urut yang susunan pengurutannya sengaja dikacaukan.
4) Membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 3-4 orang siswa dalam satu kelompok. 5) Mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu. Bila memungkinkan kegiatan ini dilakukan di luar kelas. Hal ini akan memberi dampak yang lebih baik karena anak-anak akan berada dalam suasana bermain yang sebenarnya. 6) Merencanakan langkah-langkah kegiatan serta menentukan jatah waktu yang dibutuhkan untuk setiap fase kegiatan yang akan dilalui dalam kegiatan inti. b. Kegiatan Inti Beberapa kegiatan yang harus dilalui anak dalam kegiatan inti adalah sebagai berikut. 1) Setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu paragraf/kata yang telah dibagikan guru (atau diproduksi sendiri oleh kelompok tersebut) untuk didiskusikan dalam kelompoknya masing-masing. 2) Setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu paragraf/kata yang dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu paragraf/kata harus dibicarakan dalam kelompok kecil.
3) Guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggung jawaban setiap kelompok kecil atas hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati dalam kelompok. 4) Setelah seluruh kelompok tampil, dilanjutkan perbincangan tentang pendapat dan komentar perseorangan dipimpin guru. 5) Setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks aslinya. 6) Satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian. selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan, mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan logis. 7) Pada akhir kegiatan inti, satu dua orang siswa diminta untuk menceritakan kembali isi teks dengan kata-kata sendiri. c. Tindak Lanjut Kegiatan tindak lanjut tergantung hasil belajar siswa. Contoh kegiatan tindak lanjut yang dapat dilakukan antara lain. 1) Kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda. 2) Kegiatan menyempurnakan susunan teks asli,jika terdapat susunan yang tidak memperlihatkan kelogisan. 3) Kegiatan mengubah materi bacaan (memparafrase,atau menyederhanakan bacaan).
4) Mencari makna kosakata baru di dalam kamus dan mengaplikasikan dalam pemakaian kalimat. 5) Membetulkan kesalahan-kesalahan tata bahasa yang mungkin ditemukan dalam teks wacana latihan. Satu hal yang penting dalam teknik ini,siswa tidak sekedar berlatih memahami dan menemukan susunan teks yang baik dan logis, melainkan juga dilatih untuk berpikir kritis-analitis. Hal-hal yang berkenaan dengan aspek kebahasaan, kebenaran, ketepatan struktur kalimat, tanda baca, diksi dapat menjadi perhatian dan perbincangan siswa.

B. Kerangka Pikir
Membaca merupakan hal yang sangat penting, karena membaca akan menambah penguasaan informasi dan wawasan manusia. Hal ini tentu saja tidak lepas dari kemampuan setiap individu untuk memahami sesuatu yang dibaca. Dengan kata lain, kegiatan membaca tidak hanya membunyikan lambing-lambang bahasa tertulis, tetapi juga memahami makna dan informasi yang terdapat dalam bacaan. Fenomena yang terjadi di lapangan, khususnya di lingkungan sekolah dasar justru bertolak belakang. Mayoritas siswa enggan untuk membaca dan cenderung mengabaikan. Padahal materi yang ada disajikan dalam bentuk tertulis dan dibutuhkan kemampuan untuk memahami materi tersebut melalui kegiatan membaca. Hal ini tentu saja perlu dikaji agar tidak menimbulkan dampak yang kurang positif. Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, mata pelajaran Bahasa Indonesia meliputi empat macam standar kompetensi yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempat standar kompetensi tersebut harus diberikan kepada siswa. Untuk bisa menyampaikan keempat standar kompetensi itu kepada siswa, diperlukan peranan dari guru, karena kemampuan yang dimiliki guru sangat menentukan keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan guru dalam membelajarkan mata pelajaran Bahasa Indonesia dipengaruhi oleh pelaksanaan proses belajar mengajar di kelas. Proses kegiatan membaca di kelas IV melibatkan aktivitas guru dan siswa. Aktivitas guru antara lain: guru mempersiapkan bahan dan mengupayakan agar bahan yang disajikan dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman. Sedangkan aktivitas siswa meliput: aktif dalam kegiatan belajar mengajar, siswa mula-mula menerima kartu-kartu dari guru, siswa berdiskusi dalam kelompok dengan arahan guru, menampilkan hasil diskusi dan dikomentari, serta menerima jawaban yang benar dari guru. Proses kegiatan membaca pemahaman di kelas IV SD tersebut merupakan penerapan dari teknik Skrambel dan setelah siswa dapat melaksanakan prosedur yang ada dengan hasil yang sesuai pula dengan indikator, maka mereka dianggap mampu memahami teks dengan baik. Berdasarkan pernyataan-pernyataan di atas, menunjukkan bahwa penerapan teknik Skrambel diharapkan dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman pada siswa kelas IV SD.

C. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan teori dan kerangka berpikir di atas, maka dalam penelitian ini diajukan hipotesis sebagai berikut: “Melalui teknik Skramble kemampuan membaca pemahaman siswa kelas IV SD N Plumbon dapat ditingkatkankan. "



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah model penelitian tindakan kelas (PTK), dimana peneliti melakukan observasi dalam kegiatan pembelajaran guru dan siswa di kelas. Dalam PTK terdapat tiga pengertian yang dapat diterangkan.
1. Penelitian, yaitu kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu dari suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan, yaitu sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3. Kelas, yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seseorang guru.
Suharsimi Arikunto, dkk (2006:3), menggabungkan tiga pengertian tersebut bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama-sama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
39
PTK (Classroom Action Research), yaitu “penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya (sekolah) tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran.” Zainal Aqib (2007:127) Menurut Arisatul Umami (2008:36), merumuskan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang diberikan oleh guru atau dengan arahan guru kepada siswa dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan definisi penelitian tindakan kelas di atas, maka dapat diperoleh pengertian penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru terhadap siswa dalam kawasan kelas tertentu dengan cara memberikan suatu tindakan dan dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran.
B. Desain Penelitian
S. Nasution (2006:23) menyatakan bahwa desain penelitian merupakan rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu.
Menurut Zainal Aqib (2007:18), tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas terletak pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh pendidik,
40
kemudian dicobakan dan selanjutnya dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat digunakan untuk memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh pendidik atau tidak. Menurut Zainal Aqib, (2007: 21) ada beberapa model PTK yang digunakan di dalam dunia pendidikan.
1. Model Kurt Lewin.
2. Model Kemmis dan Mc Taggart.
3. Model Dave Ebbut.
4. Model John Elliot.
Dari beberapa model tersebut, peneliti memilih model Kemmis dan Mc Taggart. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 16-19), bahwa model Kemmis dan Mc Taggart terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai berikut.
1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning), dalam tahap ini, peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), tahap pelaksanaan ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan rancangan tindakan kelas.
3. Pengamatan (Observing), tahap pengamatan yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
4. Refleksi (Reflecting), ada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukannya. Jika ternyata hasilnya belum memuaskan.
41
Maka perlu ada rancangan ulang untuk diperbaiki, dimodifikasi, dan jika perlu disusun skenario baru untuk siklus berikutnya.
Adapun alurnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Keterangan :
Siklus I :
1.Perencanaan I
2.Tindakan dan Observasi I
3.Refleksi I
Siklus II :
4.Revisi Rencana I
5.Tindakan dan Observasi II
6.Refleksi II
(7, 8, 9 siklus III bila diperlukan)
Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan Masing-masing siklus terdiri dari kegiataan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan
Teknik Skramble menjadi pilihan pada pembuatan PTK dikarenakan model ini jarang sekali bahkan belum pernah diterapkan sebelumnya di SDN Plumbon. Dengan keunggulan pada kebebasan kreatifitas mengembangkan pola pikir, pembelajaran tentu akan lebih bermakna karena siswa merasa senang dan menikmati proses belajar mengajar. Dalam teknik skrambel ini
42
siswa dijadikan subjek pembelajaran sedangkan guru hanyalah berperan sebagai fasilisator. Pelaksanaan dari penerapan teknik skramble ini berlaku pada semua siklus, yaitu pada masa aktif kegiatan belajar mengajar dalam semester genap, antara bulan Maret hingga Juni 2010. Dalam penyusunan PTK ini, dilakukan pelaksanaan dan pengamatan sendiri, bekerja sama dengan guru kelas lain yang bersangkutan. Adapun langkah-langkah perencanaan yang ditempuh berdasar kesepakatan adalah sebagai berikut.
a. Dilakukan identifikasi masalah yang terjadi di kelas tersebut. Masalah yang dimaksud menyangkut hasil belajar kognitif siswa dalam mata pelajaranBahasa Indonesia, khususnya kemampuan membaca pemahaman. Rata-rata siswa mendapat nilai rendah untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam KKM untuk membaca disebutakan 67, namun nilai rata-rata ulangan harian dan ujian tengah semester siswa hanya 56.
b. Dilakukan penyusunan dan pengembangan silabus secara bersama serta merancang bagian isi mata pelajaran dan bahan belajar yang sesuai sehingga memudahkan siswa untuk menerapkan teknik skramble secara sederhana.
2. Pelaksanaan
Teknik Skramble merupakan sebuah solusi baru yang digunakan sebagai acuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Mengingat pembelajaran ini menekankan siswa sebagai subjek pembelajaran, maka
43
besar kemungkinan siswa mampu mengembangkan potensinya masing-masing sesuai dengan karakteristik dasar yang dimiliki oleh siswa tersebut. Teknik Skramble dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tentunya setelah melalui proses pengenalan Teknik Skramble terlebih dahulu, diharapkan siswa tidak merasa telah diperlakukan secara berbeda (tidak menyadari sedang dilakukan suatu penelitian) sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan wajar. Alokasi waktu untuk proses pelaksanaan ini ditargetkan dalam waktu sesingkat-singkatnya sampai memperoleh kenaikan dalam hasil belajar siswa dari segi kognitif, dengan maksimal waktu pelaksanaan dua bulan. Waktu ini dibutuhkan agar penyampaian materi pokok dapat terselesaikan. Penelitian dilakukan melalui beberapa siklus hingga memperoleh hasil belajar yang diidealkan yaitu mencapai nilai rata-rata 67. Mengingat teknik skramble membebaskan kreatifitas siswa memperoleh pengalaman hingga siswa merasakan proses pembelajaran itu menyenangkan, maka ada semacam kebebasan dalam mendesain materi pembelajaran dengan melakukan kolaborasi dengan strategi pembelajaran lainnya. Secara garis besar, pelaksanaan teknik skramble telah diuraikan di atas. Rincian mengenai pelaksanaan pembelajaran yang tertulis pada RPP dapat dilihat lebih lanjut pada lampiran.
44
3. Pengamatan
Pengamatan berlangsung selama proses pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada tahap pengamatan ini menyangkut tentang pelaksaan pembelajaran yang disampaikan guru kepada siswa, hal-hal yang harus diperhatikan pada pengamatan adalah sebagai berikut.
a. Siswa aktif, baik dari sisi motorik (gerak), kognitif (berpikir) maupun psikomotor (perbuatan)
b. Siswa mendapatkan kesempatan untuk menyatakan pendapatnya sesuai dengan pemahaman masing-masing.
c. Guru dapat mengefektifkan waktu belajar, sehingga materi dapat selesai sesuai target yang tertera pada silabus maupun yang tertulis dalam RPP.
d. Siswa merasa senang dengan adanya interaksi yang kuat antara guru dan siswa
4. Refleksi
Tahapan ini berisi kajian secara menyeluruh terhadap isi dari kegiatan perencanaa, pelaksanaan dan observasi. Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan, dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran guna memperbaikinya pada siklus berkutnya.
Proses refleksi ini terdiri atas analisis, sintesis, dan penilaian hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Apabila terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang mulai dari siklus
45
berikutnya meliputi kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang dan pengamatan ulang sehinnga permasalahan dapat teratasi.
C. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Plumbon, kecamatan Temon, kabupaten Kulonprogo. Jumlah siswa tersebut adalah 25 siswa, dengan rincian sebagai berikut, siswa putra berjumlah 11 siswa dan siswa putri berjumlah 14 siswa. Subyek penelitian diberikan tindakan dengan beberapa tahap sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan tujuan yang akan dicapai.
D. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV semester II ( dua ) tahun ajaran 2009/2010 di SD Negeri Plumbon, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Setting penelitian ini adalah lingkungan kelas tempat subjek melakukan kegiatan belajar mengajar.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, digunakan dua teknik pengumpulan data yaitu, pengamatan atau observasi, wawancara dan tes.
1. Observasi/ Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang diobservasi adalah sebagai berikut.
46
a) Kemampuan siswa memahami bacaan, menentukan kalimat utama dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
b) Perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran. seperti antusiame siswa, perhatian siswa, usaha belajar siswa, keaktifan siswa, dan sikap menghargai terhadap sesama teman.
2. Wawancara
Wawancara atau interviu merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi dari responden (siswa, orang yang diwawancara) dengan melakukan tanya jawab sepihak. Artinya dalam kegiatan wawancara itu pertanyaan hanya berasal dari pewawancara, sebagai responden hanya menjawab saja (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 55) Pengambilan data dengan wawancara tidak dilakukan pada semua siswa, tetapi hanya dilakukan kepada siswa yang mendapatkan nilai tertinggi, sedang, dan nilai terendah saja. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, misalnya pada waktu istirahat. Hal ini dilaksanakan agar tidak mengganggu pembelajaran. Kegiatan wawancara meliputi beberapa aspek yaitu: (1) keaktifan siswa dalam membaca, (2) tanggapan tentang bacaan yang baru dibaca, (3) topik bacaan yang disukai oleh siswa, (4) kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa pada saat membaca.
47
3. Tes
Tes merupakan metode pengumpulan data yang sifatnya mengevaluasi hasil proses (pre test dan post test). Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa baik kemampuan awal maupun kemampuan akhir siklus tindakan. Instrumen untuk tes menggunakan soal tes. Tes ini berupa tes tertulis yang merupakan jenis tes yang mengharapkan jawaban siswa secara tertulis dan terstruktur.
F. Instrumen
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan pedoman wawancara.
1. Lembar Observasi
Lembar Observasi digunakan sebagai panduan dalam mengamati dan memperoleh data tentang perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam observasi ini adalah sebagai berikut.
a. Kemampuan siswa memahami bacaan, menentukan kalimat utama dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
b. perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran seperti antusiame siswa, perhatian siswa, usaha belajar siswa, keaktifan siswa, dan sikap menghargai terhadap sesama teman.
48
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk mengambil data mengenai perubahan tingkah laku siswa melalui tanya jawab secara langsung dan terpimpin. Pengambilan data dengan wawancara tidak dilakukan pada semua siswa, tetapi hanya dilakukan kepada siswa yang mendapatkan nilai tertinggi, sedang, dan terendah. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, misalnya pada saat istirahat.
3. Tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa baik kemampuan awal maupun kemampuan akhir siklus tindakan. Instrumen untuk tes menggunakan soal tes essay. Tes ini berupa tes tertulis yang merupakan jenis tes yang mengharapkan jawaban siswa secara tertulis dan terstruktur.
G. Teknis Analisis Data
Untuk melaporkan hasil penelitian, maka data yang diperoleh terlebih dahulu harus dianalisis dengan maksud agar data yang diperoleh dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sudah ditetapkan. Tujuan analisis dalam penelitian tindakan kelas adalah untuk memperoleh bukti kepastian apakah terjadi perbaikan, peningkatan, atau perubahan sebagaimana yang diharapkan bukan untuk membuat generalisasi atau pengujian teori.
Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Teknis kuantitatif digunakan untuk mengolah data yang berkaitan dengan angka-angka, yang diperoleh melalui
49
tes pada siswa. Data tersebut diperoleh melalui pembuatan rekapitulasi nilai dan penghitungan persentase nilai yang ada. Sedangkan teknik deskriptif kualitatif merupakan teknik analisis data untuk menggambarkan suatu keadaan atau fenomena. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta sifat atau hubungan antar fenomena yang diselidiki. Teknik deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari aspek perilaku siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Aspek-aspek perilaku siswa pada saat pembelajaran membaca diperoleh melalui observasi dan wawancara.
H. Indikasi Keberhasilan
Berdasarkan Kurikulum Sekolah Dasar Negeri Plumbon disebutkan KKM untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 67 (2009: 15). Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dari nilai rata-rata sebelum perlakuan 56 menjadi 67. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 75% dari keseluruhan jumlah siswa di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Plumbon mendapatkan nilai rata-rata 67.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Penelitian
Dalam penelitian ini, model yang digunakan adalah model penelitian tindakan kelas (PTK), dimana peneliti melakukan observasi dalam kegiatan pembelajaran guru dan siswa di kelas. Dalam PTK terdapat tiga pengertian yang dapat diterangkan.
1. Penelitian, yaitu kegiatan mencermati suatu objek, menggunakan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat untuk meningkatkan mutu dari suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
2. Tindakan, yaitu sesuatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu, yang dalam penelitian ini berbentuk rangkaian siklus kegiatan.
3. Kelas, yaitu sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama menerima pelajaran yang sama dari seseorang guru.
Suharsimi Arikunto, dkk (2006:3), menggabungkan tiga pengertian tersebut bahwa penelitian tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas secara bersama-sama. Tindakan tersebut diberikan oleh guru atau dengan arahan dari guru yang dilakukan oleh siswa.
39
PTK (Classroom Action Research), yaitu “penelitian yang dilakukan oleh guru di kelasnya (sekolah) tempat ia mengajar dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan proses dan praksis pembelajaran.” Zainal Aqib (2007:127) Menurut Arisatul Umami (2008:36), merumuskan penelitian tindakan kelas adalah penelitian tindakan yang diberikan oleh guru atau dengan arahan guru kepada siswa dalam bidang pendidikan yang dilaksanakan dalam kawasan kelas dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran. Berdasarkan definisi penelitian tindakan kelas di atas, maka dapat diperoleh pengertian penelitian tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan guru terhadap siswa dalam kawasan kelas tertentu dengan cara memberikan suatu tindakan dan dengan tujuan untuk memperbaiki dan atau meningkatkan kualitas pembelajaran.
B. Desain Penelitian
S. Nasution (2006:23) menyatakan bahwa desain penelitian merupakan rencana tentang cara mengumpulkan dan menganalisis data agar dapat dilaksanakan secara ekonomis serta serasi dengan tujuan penelitian itu.
Menurut Zainal Aqib (2007:18), tujuan penelitian tindakan kelas adalah untuk memperbaiki dan meningkatkan praktik pembelajaran di kelas secara berkesinambungan. Oleh karena itu, fokus penelitian tindakan kelas terletak pada tindakan-tindakan alternatif yang direncanakan oleh pendidik,
40
kemudian dicobakan dan selanjutnya dievaluasi apakah tindakan-tindakan alternatif itu dapat digunakan untuk memecahkan persoalan pembelajaran yang sedang dihadapi oleh pendidik atau tidak. Menurut Zainal Aqib, (2007: 21) ada beberapa model PTK yang digunakan di dalam dunia pendidikan.
1. Model Kurt Lewin.
2. Model Kemmis dan Mc Taggart.
3. Model Dave Ebbut.
4. Model John Elliot.
Dari beberapa model tersebut, peneliti memilih model Kemmis dan Mc Taggart. Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 16-19), bahwa model Kemmis dan Mc Taggart terdiri atas empat tahap, yaitu sebagai berikut.
1. Menyusun Rancangan Tindakan (Planning), dalam tahap ini, peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.
2. Pelaksanaan Tindakan (Acting), tahap pelaksanaan ini merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan rancangan tindakan kelas.
3. Pengamatan (Observing), tahap pengamatan yaitu kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat.
4. Refleksi (Reflecting), ada tahap ini peneliti melakukan evaluasi terhadap apa yang telah dilakukannya. Jika ternyata hasilnya belum memuaskan.
41
Maka perlu ada rancangan ulang untuk diperbaiki, dimodifikasi, dan jika perlu disusun skenario baru untuk siklus berikutnya.
Adapun alurnya dapat digambarkan sebagai berikut.
Keterangan :
Siklus I :
1.Perencanaan I
2.Tindakan dan Observasi I
3.Refleksi I
Siklus II :
4.Revisi Rencana I
5.Tindakan dan Observasi II
6.Refleksi II
(7, 8, 9 siklus III bila diperlukan)
Gambar 1. Proses Penelitian Tindakan Masing-masing siklus terdiri dari kegiataan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi.
1. Perencanaan
Teknik Skramble menjadi pilihan pada pembuatan PTK dikarenakan model ini jarang sekali bahkan belum pernah diterapkan sebelumnya di SDN Plumbon. Dengan keunggulan pada kebebasan kreatifitas mengembangkan pola pikir, pembelajaran tentu akan lebih bermakna karena siswa merasa senang dan menikmati proses belajar mengajar. Dalam teknik skrambel ini
42
siswa dijadikan subjek pembelajaran sedangkan guru hanyalah berperan sebagai fasilisator. Pelaksanaan dari penerapan teknik skramble ini berlaku pada semua siklus, yaitu pada masa aktif kegiatan belajar mengajar dalam semester genap, antara bulan Maret hingga Juni 2010. Dalam penyusunan PTK ini, dilakukan pelaksanaan dan pengamatan sendiri, bekerja sama dengan guru kelas lain yang bersangkutan. Adapun langkah-langkah perencanaan yang ditempuh berdasar kesepakatan adalah sebagai berikut.
a. Dilakukan identifikasi masalah yang terjadi di kelas tersebut. Masalah yang dimaksud menyangkut hasil belajar kognitif siswa dalam mata pelajaranBahasa Indonesia, khususnya kemampuan membaca pemahaman. Rata-rata siswa mendapat nilai rendah untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Dalam KKM untuk membaca disebutakan 67, namun nilai rata-rata ulangan harian dan ujian tengah semester siswa hanya 56.
b. Dilakukan penyusunan dan pengembangan silabus secara bersama serta merancang bagian isi mata pelajaran dan bahan belajar yang sesuai sehingga memudahkan siswa untuk menerapkan teknik skramble secara sederhana.
2. Pelaksanaan
Teknik Skramble merupakan sebuah solusi baru yang digunakan sebagai acuan untuk dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Mengingat pembelajaran ini menekankan siswa sebagai subjek pembelajaran, maka
43
besar kemungkinan siswa mampu mengembangkan potensinya masing-masing sesuai dengan karakteristik dasar yang dimiliki oleh siswa tersebut. Teknik Skramble dapat diterapkan di dalam kelas sesuai dengan skenario yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tentunya setelah melalui proses pengenalan Teknik Skramble terlebih dahulu, diharapkan siswa tidak merasa telah diperlakukan secara berbeda (tidak menyadari sedang dilakukan suatu penelitian) sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan wajar. Alokasi waktu untuk proses pelaksanaan ini ditargetkan dalam waktu sesingkat-singkatnya sampai memperoleh kenaikan dalam hasil belajar siswa dari segi kognitif, dengan maksimal waktu pelaksanaan dua bulan. Waktu ini dibutuhkan agar penyampaian materi pokok dapat terselesaikan. Penelitian dilakukan melalui beberapa siklus hingga memperoleh hasil belajar yang diidealkan yaitu mencapai nilai rata-rata 67. Mengingat teknik skramble membebaskan kreatifitas siswa memperoleh pengalaman hingga siswa merasakan proses pembelajaran itu menyenangkan, maka ada semacam kebebasan dalam mendesain materi pembelajaran dengan melakukan kolaborasi dengan strategi pembelajaran lainnya. Secara garis besar, pelaksanaan teknik skramble telah diuraikan di atas. Rincian mengenai pelaksanaan pembelajaran yang tertulis pada RPP dapat dilihat lebih lanjut pada lampiran.
44
3. Pengamatan
Pengamatan berlangsung selama proses pelaksanaan pembelajaran yang telah direncanakan. Aspek-aspek yang perlu diperhatikan pada tahap pengamatan ini menyangkut tentang pelaksaan pembelajaran yang disampaikan guru kepada siswa, hal-hal yang harus diperhatikan pada pengamatan adalah sebagai berikut.
a. Siswa aktif, baik dari sisi motorik (gerak), kognitif (berpikir) maupun psikomotor (perbuatan)
b. Siswa mendapatkan kesempatan untuk menyatakan pendapatnya sesuai dengan pemahaman masing-masing.
c. Guru dapat mengefektifkan waktu belajar, sehingga materi dapat selesai sesuai target yang tertera pada silabus maupun yang tertulis dalam RPP.
d. Siswa merasa senang dengan adanya interaksi yang kuat antara guru dan siswa
4. Refleksi
Tahapan ini berisi kajian secara menyeluruh terhadap isi dari kegiatan perencanaa, pelaksanaan dan observasi. Berdasarkan data-data yang telah dikumpulkan, dilakukan evaluasi terhadap kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran guna memperbaikinya pada siklus berkutnya.
Proses refleksi ini terdiri atas analisis, sintesis, dan penilaian hasil pengamatan atas tindakan yang dilakukan. Apabila terdapat masalah dari proses refleksi, maka dilakukan proses pengkajian ulang mulai dari siklus
45
berikutnya meliputi kegiatan perencanaan ulang, tindakan ulang dan pengamatan ulang sehinnga permasalahan dapat teratasi.
C. Subjek Penelitian
Dalam penelitian ini, subjek penelitiannya adalah seluruh siswa kelas IV SD Negeri Plumbon, kecamatan Temon, kabupaten Kulonprogo. Jumlah siswa tersebut adalah 25 siswa, dengan rincian sebagai berikut, siswa putra berjumlah 11 siswa dan siswa putri berjumlah 14 siswa. Subyek penelitian diberikan tindakan dengan beberapa tahap sesuai dengan materi yang akan disampaikan dan tujuan yang akan dicapai.
D. Setting Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di kelas IV semester II ( dua ) tahun ajaran 2009/2010 di SD Negeri Plumbon, Kecamatan Temon, Kabupaten Kulon Progo. Setting penelitian ini adalah lingkungan kelas tempat subjek melakukan kegiatan belajar mengajar.
E. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data-data yang diperlukan dalam penelitian ini, digunakan dua teknik pengumpulan data yaitu, pengamatan atau observasi, wawancara dan tes.
1. Observasi/ Pengamatan
Pengamatan dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek-aspek yang diobservasi adalah sebagai berikut.
46
a) Kemampuan siswa memahami bacaan, menentukan kalimat utama dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
b) Perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran. seperti antusiame siswa, perhatian siswa, usaha belajar siswa, keaktifan siswa, dan sikap menghargai terhadap sesama teman.
2. Wawancara
Wawancara atau interviu merupakan suatu cara yang dipergunakan untuk mendapatkan informasi dari responden (siswa, orang yang diwawancara) dengan melakukan tanya jawab sepihak. Artinya dalam kegiatan wawancara itu pertanyaan hanya berasal dari pewawancara, sebagai responden hanya menjawab saja (Burhan Nurgiyantoro, 2001: 55) Pengambilan data dengan wawancara tidak dilakukan pada semua siswa, tetapi hanya dilakukan kepada siswa yang mendapatkan nilai tertinggi, sedang, dan nilai terendah saja. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, misalnya pada waktu istirahat. Hal ini dilaksanakan agar tidak mengganggu pembelajaran. Kegiatan wawancara meliputi beberapa aspek yaitu: (1) keaktifan siswa dalam membaca, (2) tanggapan tentang bacaan yang baru dibaca, (3) topik bacaan yang disukai oleh siswa, (4) kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa pada saat membaca.
47
3. Tes
Tes merupakan metode pengumpulan data yang sifatnya mengevaluasi hasil proses (pre test dan post test). Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa baik kemampuan awal maupun kemampuan akhir siklus tindakan. Instrumen untuk tes menggunakan soal tes. Tes ini berupa tes tertulis yang merupakan jenis tes yang mengharapkan jawaban siswa secara tertulis dan terstruktur.
F. Instrumen
Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu lembar observasi dan pedoman wawancara.
1. Lembar Observasi
Lembar Observasi digunakan sebagai panduan dalam mengamati dan memperoleh data tentang perilaku siswa selama proses pembelajaran berlangsung. Aspek yang diamati dalam observasi ini adalah sebagai berikut.
a. Kemampuan siswa memahami bacaan, menentukan kalimat utama dan menjawab pertanyaan yang diberikan guru.
b. perilaku siswa selama mengikuti proses pembelajaran seperti antusiame siswa, perhatian siswa, usaha belajar siswa, keaktifan siswa, dan sikap menghargai terhadap sesama teman.
48
2. Pedoman Wawancara
Pedoman wawancara digunakan untuk mengambil data mengenai perubahan tingkah laku siswa melalui tanya jawab secara langsung dan terpimpin. Pengambilan data dengan wawancara tidak dilakukan pada semua siswa, tetapi hanya dilakukan kepada siswa yang mendapatkan nilai tertinggi, sedang, dan terendah. Wawancara dilakukan di luar jam pelajaran, misalnya pada saat istirahat.
3. Tes
Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa baik kemampuan awal maupun kemampuan akhir siklus tindakan. Instrumen untuk tes menggunakan soal tes essay. Tes ini berupa tes tertulis yang merupakan jenis tes yang mengharapkan jawaban siswa secara tertulis dan terstruktur.
G. Teknis Analisis Data
Untuk melaporkan hasil penelitian, maka data yang diperoleh terlebih dahulu harus dianalisis dengan maksud agar data yang diperoleh dapat digunakan untuk menjawab rumusan masalah yang sudah ditetapkan. Tujuan analisis dalam penelitian tindakan kelas adalah untuk memperoleh bukti kepastian apakah terjadi perbaikan, peningkatan, atau perubahan sebagaimana yang diharapkan bukan untuk membuat generalisasi atau pengujian teori.
Teknik analisis data penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Teknis kuantitatif digunakan untuk mengolah data yang berkaitan dengan angka-angka, yang diperoleh melalui
49
tes pada siswa. Data tersebut diperoleh melalui pembuatan rekapitulasi nilai dan penghitungan persentase nilai yang ada. Sedangkan teknik deskriptif kualitatif merupakan teknik analisis data untuk menggambarkan suatu keadaan atau fenomena. Tujuannya adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta sifat atau hubungan antar fenomena yang diselidiki. Teknik deskriptif kualitatif digunakan untuk menganalisis data kualitatif yang diperoleh dari aspek perilaku siswa pada saat mengikuti pembelajaran. Aspek-aspek perilaku siswa pada saat pembelajaran membaca diperoleh melalui observasi dan wawancara.
H. Indikasi Keberhasilan
Berdasarkan Kurikulum Sekolah Dasar Negeri Plumbon disebutkan KKM untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia adalah 67 (2009: 15). Tujuan utama penelitian tindakan kelas adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik dari nilai rata-rata sebelum perlakuan 56 menjadi 67. Penelitian ini dikatakan berhasil apabila 75% dari keseluruhan jumlah siswa di kelas IV Sekolah Dasar Negeri Plumbon mendapatkan nilai rata-rata 67.



BAB V
SIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan, maka dapat diambil kesimpulan bahwa penggunaan teknik skramble dalam proses pembelajaran membaca pemahaman di kelas IV SD Negeri Plumbon dapat meningkatkan kemampuan membaca pemahaman siswa.
Dalam proses pelaksanaannya, terdapat dua aspek yang dinilai dan diamati, yaitu aspek kemampuan pemahaman dan aspek perilaku siswa. Pada akhir siklus I sudah ada peniningkatan pada kedua aspek penilaian, tetapi masih ada beberapa siswa yangbelum memenuhi criteria keberhasilan. Pada akhir siklus II seluruh siswa sudah memenuhi criteria keberhasilan, tetapi ada satu siswa yang belum tuntas dalam penilaian aspek perilaku. Hal ini dapat ditunjukkan dengan adanya peningkatan nilai yang semakin lama semakin baik, yaitu: (1) rata-rata nilai kondisi awal siswa sebesar 56,04; (2) rata-rata nilai pada siklus I sebesar 61,36; (3) rata-rata- nilai pada siklus II sebesar 75,32. Hal tersebut menunjukkan adanya selisih nilai antara kondisi awal siswa dengan kegiatan pembelajaran yang terakhir pada siklus II sebesar 9,28. Perubahan juga terjadi pada sikap siswa selama pemberian perlakuan. Sikap acuh tak acuh selama proses pembelajaran bisa ditekan sekecil-kecilnya denngan adanya kelompok belajar.
75
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut.
1. Perincian waktu penelitian hendaknya diperhatikan karena akan sangat berpengaruh pada pelaksanaan dan hasil penelitian.
2. Guru dapat menggunakan teknik skramble ini pada materi ajar yang lain. Dalam pelaksanaannya juga dimungkinkan adanya modifikasi prosedur kerja, dengan tidak merubah konsep dari pelaksanaan teknik skramble itu sendiri
3. Guru hendaknya memperhatikan respon siswa dalam mengikuti pembelajaran karena salah satu faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah minat siswa dalam mengikuti pembelajaran tersebut
76
DAFTAR PUSTAKA
Arisatul Umami. (2008). Upaya Meningkatkan Kemampuan Membaca Permulaan Melalui Metode SAS (Struktur Analisis Sintesis) pada Siswa Kelas II SDN Brunorejo Kecamatan Bruno Kabupaten Purworejo.Laporan Penelitian: UNY
Budi Nuryanto dkk. (1998). Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Jakarta: Depdikbud.
Burhan Nurgiyantoro. (2001). Penilaian dalam Pengajaran Bahasa dan Sastra. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta
Conny R. Semiawan. (1999). Perkembangan dan Belajar Siswa. Jakarta: Depdikbud.
Desmita. (2006). Psikologi Perkembangan. Bandung: Remaja Rosda Karya.
Farida Hanum. (2005). Pengajaran Membaca di Sekolah Dasar. Jakarta: Bumi Aksara.
Henry Guntur Tarigan. (1979). Membaca Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. (2008). Strategi Pembelajaran Bahasa. Bandung: Rosda.
M. Toha Anggoro. (2002). Metode Penelitian. Jakarta: Universitas Terbuka.
Mulyasa. (2006). Menjadi Guru Profesional. Bandung: Rosda.
Nurhadi. (1987). Membaca Cepat dan Efektif. Bandung: Sinar Baru.
Slamet Suryanto. (2005). Dasar-dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Yogyakarta: Hikayat.
S. Nasution.(2006). Metode Research. Jakarta: PT. Bumi Aksara
Sugiyono. (2005). Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto dkk. (2005). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara.
77
Suharsimi Arikunto dkk. (2006). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Suharsimi Arikunto, Suhardjono, dan Supardi. (2007). Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara. Suparno. (1998). Media Pengajaran Bahasa. IKIP Yogyakarta Suyatinah dkk. (2009). Penggunaan Flash Card Untuk Meningkatkan Keterampilan Membaca Pada Siswa Kelas i SDN Tukangan Yogyakarta. Laporan Penelitian: UNY Tim Penyusun Kamus.(2005). Kamus Besar Bahasa Indonesia: Edisi Ketiga. Jakarta: balai Pustaka Wina Sanjaya.(2008). Strategi Pembelajaran: Berorientasi Standar Proses pendidikan. Jakarta: Kencana Zainal Aqib.(2006).Penelitian Tindakan Kelas.Bandung: Yrama Widya. ---------. (2006). Undang-undang Republik Indonesia nomor 14Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Bandung: Citra Umbara. ---------.(2009). Kurikulum Sekolah Dasar Negeri Plumbon.--------- ---------.http://pearlatte.wordpress.com/2009/11/26/.



Lampiran 1. KONDISI AWAL KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SISWA
No.
Nama
Kriteria
Skor
Nilai
Keterangan
1
Nov
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 16 4 5 5 7 4 5
61
Kurang
2
Adi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 16 6 5 5 5 4 5
59
Kurang
3
Azs
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 13 6 4 5 5 5 5
53
Kurang
80
4
Ani
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 17 8 6 7 8 7 7
76
Baik
5
Kho
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 14 6 4 4 5 4 4
56
Kurang
6
Yas
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 12 5 4 4 4 5 4
49
Kurang
7
Iqb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 13 5 5 5 5 5 5
54
Kurang
81
8
Syh
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 15 4 5 4 5 5 4
52
Kurang
9
Iis
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 15 5 4 4 5 5 4
54
Kurang
10
Rio
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 15 5 5 5 6 5 6
61
Kurang
11
Sho
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 17 7 7 7 8 7 7
76
Baik
82
12
Ind
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 12 6 5 5 5 5 5
53
Kurang
13
Des
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 13 6 4 5 6 5 5
57
Kurang
14
Ans
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 13 5 5 4 5 4 4
61
Kurang
15
Vik
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 11 5 4 4 5 5 4
48
Kurang
83
16
San
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 11 4 5 4 4 4 4
47
Kurang
17
Dwi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 12 4 4 4 4 5 4
48
Kurang
18
End
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 13 5 5 4 5 4 4
52
Kurang
19
Avi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 13 5 4 4 5 4 4
50
Kurang
84
20
Jay
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 13 5 4 5 5 4 4
51
Kurang
21
Eni
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 15 5 6 5 5 5 8
59
Kurang
22
Snt
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 14 6 6 5 6 6 5
62
Kurang
23
Ris
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 15 5 6 5 5 6 6
63
Kurang
85
24
Ikb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 15 5 4 6 5 5 5
56
Kurang
25
Her
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 15 5 6 5 6 5 6
62
Kurang
Jumlah
1401
1401
Rata-rata
56,04
56,04
86
Lampiran 2. DAFTAR NILAI KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SIKLUS I
No.
Nama
Kriteria
Skor
Nilai
Keterangan
1.
Nov
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 16 6 6 5 7 5 5
64
Kurang
2.
Adi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 16 6 5 7 5 6 7
61
Kurang
3.
Azs
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 13 6 5 6 5 5 5
58
Kurang
87
4.
Ani
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 17 8 7 8 8 7 8
80
Sangat Baik
5.
Kho
Isi Organisasi .Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 14 6 5 5 5 5 5
60
Kurang
6.
Yas
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 14 7 6 6 6 7 6
66
Cukup
7.
Iqb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 13 6 5 6 5 5 6
59
Kurang
88
8.
Syh
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 13 5 5 6 6 5 6
58
Kurang
9.
Iis
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 14 6 5 5 5 5 5
58
Kurang
10.
Rio
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 14 6 5 7 7 5 7
65
Cukup
11.
Sho
17 17 7 7 8 8 7 8
79
Sangat Baik
89
12.
Ind
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 12 6 5 6 5 6 6
59
Kurang
13.
Des
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 13 6 5 5 6 6 5
60
Kurang
14.
Ans
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 14 5 5 5 5 4 5
54
Kurang
15.
Vik
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 11 5 4 5 5 5 5
52
Kurang
90
16.
San
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 13 4 5 5 5 5 5
52
Kurang
17.
Dwi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
10 13 5 5 5 5 5 5
53
Kurang
18.
End
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 14 5 6 6 5 5 6
58
Kurang
19.
Avi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
12 12 6 5 5 5 5 5
55
Kurang
91
20.
Jay
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
11 12 5 5 6 5 5 6
56
Kurang
21.
Eni
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 15 5 6 6 6 5 6
62
Kurang
22.
Snt
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 14 6 6 5 6 6 6
64
Kurang
23.
Ris
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 14 5 6 7 6 6 7
66
Cukup
92
24.
Ikb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 15 6 7 6 7 7 6
67
Cukup
25.
Her
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 16 5 6 7 6 5 7
65
Cukup
Jumlah
1534
1534
Rata-rata
61,36
61,36
93
Lampiran 3. DAFTAR NILAI KEMAMPUAN MEMBACA PEMAHAMAN SIKLUS II
No.
Nama
Kriteria
Skor
Nilai
Keterangan
1.
Nov
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 16 7 6 7 7 5 7
70
Cukup
2.
Adi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
18 16 7 8 8 7 6 8
73
Baik
3.
Azs
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
13 13 5 6 7 7 6 7
74
Baik
94
4.
Ani
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
19 18 8 8 9 8 8 9
87
Sangat Baik
5.
Kho
Isi Organisasi .Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 15 6 7 7 6 7 7
73
Baik
6.
Yas
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
18 16 7 6 7 6 7 7
75
Baik
7.
Iqb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 15 7 8 7 7 8 7
75
Baik
95
8.
Syh
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
18 15 7 7 6 7 7 7
74
Baik
9.
Iis
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 16 7 6 7 7 6 7
72
Baik
10.
Rio
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 15 6 7 7 7 7 7
73
Baik
11.
Sho
19 17 8 8 9 8 8 9
86
Sangat Baik
96
12.
Ind
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 26 8 7 7 7 8 7
77
Baik
13.
Des
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 14 7 8 7 8 7 7
76
Baik
14.
Ans
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 16 7 6 7 6 7 7
72
Baik
15.
Vik
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 15 7 5 7 6 6 7
70
Cukup
97
16.
San
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 17 7 5 7 5 7 7
70
Cukup
17.
Dwi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 14 7 6 7 7 7 6 18 16 8 7 8 8 8 7
70
Cukup
18.
End
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
80
Sangat Baik
19.
Avi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
18 18 8 7 7 7 8 8
81
Sangat Baik
98
20.
Jay
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
16 14 7 6 7 6 7 7
71
Cukup
21.
Eni
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 16 7 7 7 7 7 7
73
Baik
22.
Snt
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 14 6 7 7 6 6 6
71
Cukup
23.
Ris
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
17 16 7 7 7 7 8 7
75
Baik
99
24.
Ikb
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
14 15 7 7 8 7 7 8
73
Baik
25.
Her
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
15 17 7 7 8 6 7 7
74
Baik
Jumlah
1865
1865
Rata-rata
74,60
74,60
100
Lampiran 4. LEMBAR PENGAMATAN PERILAKU SISWA DALAM PROSES PEMBELAJARAN Hari : Siklus : Tanggal : Pertemuan : Materi : Petunjuk : Berilah tanda centang (√) pada kolom di bawah ini pada skor pengamatan yang sesuai dengan kondisi !
No
Aspek yang diamati
Frekuensi
4
3
2
1
1.
Mengetahui tujuan pembelajaran yang akan dicapai
2.
Antusiame siswa dalam proses pembelajaran
3.
Perhatian siswa pada saat guru menjelaskan
4.
Usaha untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman
5.
Penghargaan atau kepedulian siswa terhadap temannya
6.
Keaktifan bertanya dan memberikan pendapat
7.
Dapat mengkaitkan materi dengan pengalaman pribadi
Keterangan: Plumbon, April 2010 1: Kurang baik Observer 2 : Cukup baik 3 : Baik 4 : Sangat baik
101
Lampiran 5. LEMBAR PENGAMATAN GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN Hari : Siklus : Tanggal : Pertemuan : Materi : Petunjuk : Berilah tanda centang (√) dibawah ini pada skor pengamatan yang sesuai dengan kondisi !
No
Aspek yang diamati
Frekuensi
4
3
2
1
1.
Menyiapkan kelas untuk proses pembelajaran
2.
Guru memberikan masalah sebagai apersepsi
3.
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
4.
Guru menguasai materi pembelajaran
5.
Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
6.
Guru mengaitkan media dengan pengalaman siswa.
7.
Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
8.
Guru melakukan refleksi.
Keterangan: Plumbon, April 2010 1: Kurang baik Observer 2 : Cukup baik 3 : Baik 4 : Sangat baik
102
Lampiran 6. REKAPITULASI PENGAMATAN
A. Perilaku Siswa dalam Proses Pembelajaran
No
Aspek yang diamati
Siklus I
Siklus II
1
2
1
2
1
Antusiame siswa dalam proses pembelajaran
2
2
4
4
2
Perhatian siswa pada saat guru menjelaskan
1
2
3
3
3
Usaha untuk meningkatkan kemampuan membaca pemahaman
2
3
3
4
4
Penghargaan/ kepedulian siswa terhadap temannya
2
1
3
3
5
Keaktifan bertanya
2
2
3
3
6
Dapat mengkaitkan materi dengan pengalaman pribadi
2
3
4
4
Jumlah
11
13
20
21
Rata-rata
1,83
2,16
3,33
3,50
B. Guru dalam Proses Pembelajaran
No
Aspek yang diamati
Siklus I
Siklus II
1
2
1
2
1
Menyiapkan kelas untuk proses pembelajaran
2
3
3
3
2
Guru memberikan masalah sebagai apersepsi
3
2
3
3
3
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran
2
2
3
3
4
Guru menguasai materi pembelajaran
2
3
4
3
5
Guru melaksanakan pembelajaran sesuai dengan kompetensi yang akan dicapai.
2
3
2
3
6
Guru mengaitkan media dengan pengalaman siswa.
3
2
3
4
7
Melakukan evaluasi sesuai dengan tujuan pembelajaran.
4
4
4
4
8
Guru melakukan refleksi.
4
4
4
4
Jumlah
22
23
26
27
Rata-rata
2,75
2,88
3,25
3,38
103
Lampiran 7. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Pertama Siklus I Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : IV/ 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, tanggal : Rabu, 14 April 2010
A. Standar Kompetensi
7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun
B. Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif
C. Indikator
7.1.1 Membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman yang benar 7.1.2 Menunjukkan kalimat utama suatu paragraf melalui membaca intensif
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah berdiskusi kelompok dan mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat:
1. membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman dengan benar
2. menunjukkan kalimat utama suatu paragraf dengan benar
104
E. Materi Pokok
Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
F. Rangkuman Materi
Setiap paragraf terdiri dari satu buah kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat utama merupakan inti atau pernyataan pokok dari paragraf tersebut, yang diperjelas oleh kalimat penjelas. Kalimat penjelas adalah kalimat yang mendukung kejelasan kalimat utama yang merupakan aspek pengembangan dari topic yang dikandung dalam kalimat utama.
G. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
c. Penugasan
d. Diskusi
2. Media Pembelajaran
a. Teks cerita, wacana
b. Kartu kalimat
H. Langkah - langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Salam dan berdoa
b. Presensi
105
c. Apersepsi
Guru bertanya kepada siswa mengenai materi pelajaran yang disampaikan sebelumnya. Guru bertanya kepada siswa mengenai akibat jika seseorang tidak dapat memahami aturan pakai atau petunjuk pemakaian yang tertulis pada kemasan obat atau produk lainnya.
2. Kegiatan Inti
a. guru menyampaikan tujuan pembelajaran
b. guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa dalam satu kelompok dan mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu.
c. guru membagikan paket yang berisi kartu kalimat
d. setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu kalimat yang telah dibagikan guru
e. setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu kalimat yang dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu kalimat harus dibicarakan dalam kelompok kecil.
f. guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil atas
106
hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati dalam kelompok.
g. setelah seluruh kelompok tampil, siswa diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan komentar perseorangan yang dipimpin guru.
h. setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks aslinya
i. satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian. selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan, mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan logis.
j. Siswa diminta untuk membacakan kalimat utama setiap paragraf sesuai kesepakatan dalam kelompok
3. Kegiatan Akhir
kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda.
I. Sumber Belajar
1. Kurikulum Sekolah Dasar UPTD PAUD DAN DIKDAS Kecamatan Temon
2. Bina Bahasa Indonesia untuk SD kelas IV semester 2, penerbit Erlangga
107
J. Evaluasi
1. Prosedur Evaluasi : post tes
2. Jenis Evaluasi : tertulis
3. Bentuk Evaluasi : essay
4. Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca
Kriteria
Bobot
Kemungkinan Skor Tertinggi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
2 2 1 1 1 1 1 1
20 20 10 10 10 10 10 10
Jumlah
10
100
Kategori penilaian kemampuan membaca pemahaman
No.
Rentang skor
Kriteria
1.
79 – 85
Sangat Baik
2.
72 – 78
Baik
3.
65 – 71
Cukup
4.
<64
Kurang
K. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil, jika mencapai nilai minimal 70.
L. Lampiran
1. Kartu Kalimat
Kartu Kalimat Cerita Pendek burjudul “Dolphina Si Anak Laut”
108
Di tepi pantai, tampak sosok gadis kecil berdiri tenang di atas pasir yang menghampar.
Dolphina, nama anak gadis kecil itu, adalah seorang anak nelayan. Dolphina adalah perenang ulung. Ia juga ahli menyelam
Tanpa bantuan apapun, ia sanggup bertahan beberapa lama di dalam air. Pagi ini, saat matahari masih bersembunyi ia sudah berada di tepi pantai.
Kali ini laut beralun lembut. Hanya ombak kecil yang memecah di pantai. Tampak begitu tenang.
Satu hal yang membuatnya mengerutkan kening, ia melihat banyak ikan terapung mati. Ikan-kan itu dingin dan membeku.
Tetapi dengan cara itu, semua ikan dari yang kecil hingga yang besar akan mati.
. Naluri anak laut Dolphina berontak. Tanpa ragu, Dolphina mencebur ke air. Ia berenang menuju beting-beting karang.
Dugaan Dolphina tidak keliru. Dari jauh ia melihat sebuah perahu motor tertambat. Tampak tiga orang berdiri di atas karang.
Sementara itu, ia mendengar bunyi mesin bergemuruh. Mesin tersebut mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat.
Hal ini menyebabkan air laut berubah dingin. Semakin dekat mesin itu, semakin dinginlah air laut
Air laut yang sangat dingin menyebabkan ikan-ikan mati. Ikan-ikan itu tetap baik keadaannya karena mati dalam keadaan beku.
Sebagai anak nelayan Dolphina tahu, ikan-ikan di perairan itu harganya mahal. Tidak mengherankan kalau jadi incaran orang
. Mengikat orang ketiga adalah bagian Dolphina. Setelah itu, Dolphina berenang kembali ke pantai. Ia kembali ke karang dengan perahu bersama beberapa orang
109
Sesudah itu, ia menyuruh orang tersebut mengikat dua orang kawannya erat- erat.
“ Serang !” Dolhina berseru. Mendengar seruan itu, benda-benda hitam yang ternyata adalah burung camar, menyerang tiga orang yang berdiri di atas karang itu.
Akan tetapi, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba udara di atas karang dipenuhi benda-benda hitam yang beterbangan.
Orang yang berada di atas karang saling menatap. Mereka mendengar suitan itu
. “ Biar kubereskan sendiri !” ujar Dolphina sambil mengerutkan kening. Tiba-tiba Dolphina mengeluarkan suitan panjang yang nyaring.
Oleh karena tak mampu mengatasi, mereka berteriak-teriak mnta ampun. Dengan garang Dolphina meminta salah seorang dari mereka mematikan mesin pembuat bencana
2. Teks Wacana
Dolphina si Anak Laut
Di tepi pantai, tampak sosok gadis kecil berdiri tenang di atas pasir yang menghampar. Dolphina, nama anak gadis kecil itu, adalah seorang anak nelayan. Dolphina adalah perenang ulung. Ia juga ahli menyelam. Tanpa bantuan apapun, ia sanggup bertahan beberapa lama di dalam air. Pagi ini, saat matahari masih bersembunyi ia sudah berada di tepi pantai. Kali ini laut beralun lembut. Hanya
110
ombak kecil yang memecah di pantai. Tampak begitu tenang. Satu hal yang membuatnya mengerutkan kening, ia melihat banyak ikan terapung mati. Ikan-kan itu dingin dan membeku. Naluri anak laut Dolphina berontak. Tanpa ragu, Dolphina mencebur ke air. Ia berenang menuju beting-beting karang. Dugaan Dolphina tidak keliru. Dari jauh ia melihat sebuah perahu motor tertambat. Tampak tiga orang berdiri di atas karang. Sementara itu, ia mendengar bunyi mesin bergemuruh. Mesin tersebut mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat.Hal ini menyebabkan air laut berubah dingin. Semakin dekat mesin itu, semakin dinginlah air laut. Air laut yang sangat dingin menyebabkan ikan-ikan mati. Ikan-ikan itu tetap baik keadaannya karena mati dalam keadaan beku. Tetapi dengan cara itu, semua ikan dari yang kecil hingga yang besar akan mati.
Sebagai anak nelayan Dolphina tahu, ikan-ikan di perairan itu harganya mahal. Tidak mengherankan kalau jadi incaran orang. “ Biar kubereskan sendiri !” ujar Dolphina sambil mengerutkan kening. Tiba-tiba Dolphina mengeluarkan suitan panjang yang nyaring. Orang yang berada di atas karang saling menatap. Mereka mendengar suitan itu. Akan tetapi, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba udara di atas karang dipenuhi benda-benda hitam yang beterbangan. “ Serang !” Dolhina berseru. Mendengar seruan itu, benda-benda hitam yang ternyata adalah burung camar, menyerang tiga orang yang berdiri di atas karang itu. Oleh karena tak mampu mengatasi, mereka berteriak-teriak mnta ampun. Dengan garang Dolphina meminta salah seorang dari mereka mematikan mesin pembuat bencana. Sesudah itu, ia menyuruh orang tersebut mengikat dua orang
111
kawannya erat-erat. Mengikat orang ketiga adalah bagian Dolphina. Setelah itu, Dolphina berenang kembali ke pantai. Ia kembali ke karang dengan perahu bersama beberapa orang nelayan. Plumbon, April 2010 Mengetahui,
Kepala Sekolah Suwarno, SPd. NIP 19600115 198012 1 002
Guru Kelas Munjiyah, S.Pd. SD. NIP 19700507 199203 2 006
112
Lampiran 8. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Kedua Siklus II Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : IV/ 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, tanggal : Senin, 19 April 2010 A. Standar Kompetensi 7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun
B. Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif
C. Indikator
7.1.1 Membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman yang benar 7.1.2 Menunjukkan kalimat utama suatu paragraf melalui membaca intensif
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah berdiskusi kelompok dan mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat:
1. membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman dengan benar
2. menunjukkan kalimat utama suatu paragraf dengan benar
113
E. Materi Pokok
Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
F. Rangkuman Materi
Setiap paragraf terdiri dari satu buah kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat utama merupakan inti atau pernyataan pokok dari paragraf tersebut, yang diperjelas oleh kalimat penjelas. Kalimat penjelas adalah kalimat yang mendukung kejelasan kalimat utama yang merupakan aspek pengembangan dari topic yang dikandung dalam kalimat utama.
G. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. ceramah b. tanya Jawab c. penugasan d. diskusi
2. Media Pembelajaran
a. teks cerita, wacana
b. kartu kalimat
H. Langkah - langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Salam dan berdoa
b. Presensi
c. Apersepsi
114
Guru bertanya kepada siswa mengenai materi pelajaran yang disampaikan sebelumnya. Guru bertanya kepada siswa mengenai akibat jika seseorang tidak dapat memahami aturan pakai atau petunjuk pemakaian yang tertulis pada kemasan obat atau produk lainnya.
2. Kegiatan Inti
a. guru menyampaikan tujuan pembelajaran
b. guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa dalam satu kelompok dan mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu.
c. guru membagikan paket yang berisi kartu kalimat
d. setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu kalimat yang telah dibagikan guru
e. setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu kalimat yang dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu kalimat harus dibicarakan dalam kelompok kecil, sekaligus menemukan kalimat utama atau pokok pikiran dari tiap paragraf.
f. guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil atas
115
hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati dalam kelompok.
g. setelah seluruh kelompok tampil, siswa diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan komentar perseorangan yang dipimpin guru.
h. setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks aslinya
i. satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian. selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan, mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan logis.
j. Siswa diminta untuk membacakan kalimat utama setiap paragraf sesuai kesepakatan dalam kelompok
3. Kegiatan Akhir
kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda.
I. Sumber Belajar
1. Kurikulum Sekolah Dasar UPTD PAUD DAN DIKDAS Kecamatan Temon
2. Bina Bahasa Indonesia untuk SD kelas IV semester 2, penerbit Erlangga
J. Evaluasi
1. Prosedur Evaluasi : post tes
116
Penggemar olahraga bersepeda, rajinlah berlatih. Melalui olahraga bersepeda ini, kalian pun dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.
2. Jenis Evaluasi : tertulis
3. Bentuk Evaluasi : essay
4. Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca
Kriteria
Bobot
Kemungkinan Skor Tertinggi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
2 2 1 1 1 1 1 1
20 20 10 10 10 10 10 10
Jumlah
10
100
Kategori penilaian kemampuan membaca pemahaman
No.
Rentang skor
Kriteria
1.
79 – 85
Sangat Baik
2.
72 – 78
Baik
3.
65 – 71
Cukup
4.
<64
Kurang
K. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil, jika mencapai nilai minimal 70.
L. Lampiran
1. Kartu Kalimat
Kartu Kalimat Wacana Berjudul “Atlet Bersepeda Indonesia Unguul di Asia”
117
Pada perlombaan tingkat Asia atauSEA Games XXII di Vietnam, empat medali emas diraih oleh kontingen Indonesia dari cabang balap sepeda
Seperti yang dilakukan para atlet bersepeda di ajang kejuaraan antar negara.
Hal ini dibuktikan oleh pembalap sepeda muda seperti Santia Tri Kusuma, yang meraih dua medali emas SEA Games XXII di Vietnam.
Beasiswa ini diberikan untuk mempersiapkan diri mengikuti ajang Olimpiade di Athena.
Prestasi Santia bukan hanya di tingkat nasional dan Asia, melainkan di tingkat dunia
Setelah itu Indonesia mengalami penurunan prestasi. Akan tetapi, tahun-tahun berikutnya Indonesia kembali meraih prestasi di kawasan Asia.
Pada SEA Games XXII di Kuala Lumpur, Malaysia, atlet Indonesia meraih sebelas medali emas.
Atlet balap sepeda Indonesia memang unggul di ting kat Asia. Pada Asian Games IV 1962 di Jakarta, Indonesia memperoleh tiga medali emas.
Pada kejuaraan dunia Grade B di Swiss, dia berhasil meraih dua medali perunggu dari semua medali yang diperebutkan.
Pada Sea Games di Vietnam hanya diperebutkan sepuluh medali emas karena nomor trek (velodrom) tidak dipertandingkan.
Pada tingkat Asia Tenggara, negara kita memang sudah cukup lama berprestasi.
.
.
Karena keberhasilan ini, Santia menerima beasiswa dari Olympic Solidarity.
118
2. Teks Wacana
“Atlet Bersepeda Indonesia Unguul di Asia” Penggemar olahraga bersepeda, rajinlah berlatih. Melalui olahraga bersepeda ini kalian pun dapat mengharumkan nama bangsa dan negara. Seperti yang dilakukan para atlet bersepeda di ajang kejuaraan antar negara. Pada perlombaan tingkat Asia atauSEA Games XXII di Vietnam, empat medali emas diraih oleh kontingen Indonesia dari cabang balap sepeda Pada tingkat Asia Tenggara, negara kita memang sudah cukup lama berprestasi. Pada SEA Games XXII di Kuala Lumpur, Malaysia, atlet Indonesia meraih sebelas medali emas. Pada Sea Games di Vietnam hanya diperebutkan sepuluh medali emas karena nomor trek (velodrom) tidak dipertandingkan. Atlet balap sepeda Indonesia memang unggul di ting kat Asia. Pada Asian Games IV 1962 di Jakarta, Indonesia memperoleh tiga medali emas. Setelah itu Indonesia mengalami penurunan prestasi. Akan tetapi, tahun-tahun berikutnya Indonesia kembali meraih prestasi di kawasan Asia. Hal ini dibuktikan oleh pembalap sepeda muda seperti Santia Tri Kusuma, yang meraih dua medali emas SEA Games XXII di Vietnam.
Prestais Santia bukan hanya di tingkat regional dan Asia, melainkan di tingkat dunia. Pada kejuaraan dunia Grade B di Swiss, dia berhasil meraih dua medali perunggu dari semua medali yang diperebutkan. Karena keberhasilan ini, Santia menerima beasiswa dari Olympic Solidarity. Beasiswa ini diberikan untuk mempersiapkan diri mengikuti ajang Olimpiade di Athena.
119
Plumbon, April 2010 Mengetahui,
Kepala Sekolah Suwarno, SPd. NIP 19600115 198012 1 002
Guru Kelas Munjiyah, S.Pd. SD. NIP 19700507 199203 2 006
120
Lampiran 9. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Pertama Siklus II Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : IV/ 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, tanggal : Kamis, 22 April 2010
A. Standar Kompetensi
7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun
B. Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif
C. Indikator
7.1.1 Membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman yang benar 7.1.2 Menunjukkan kalimat utama suatu paragraf melalui membaca intensif
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah berdiskusi kelompok dan mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat:
1. membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman dengan benar
2. menunjukkan kalimat utama suatu paragraf dengan benar.
121
E. Materi Pokok
Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
F. Rangkuman Materi
Setiap paragraf terdiri dari satu buah kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat utama merupakan inti atau pernyataan pokok dari paragraf tersebut, yang diperjelas oleh kalimat penjelas. Kalimat penjelas adalah kalimat yang mendukung kejelasan kalimat utama yang merupakan aspek pengembangan dari topic yang dikandung dalam kalimat utama.
G. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
c. Penugasan
d. Diskusi
2. Media Pembelajaran
a. Teks cerita, wacana
b. Kartu kalimat
H. Langkah - langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Salam
b. Presensi
c. Apersepsi
122
Guru bertanya kepada siswa mengenai materi pelajaran yang disampaikan sebelumnya. Guru bertanya kepada siswa mengenai akibat jika seseorang tidak dapat memahami aturan pakai atau petunjuk pemakaian yang tertulis pada kemasan obat atau produk lainnya.
2. Kegiatan Inti
a. guru menyampaikan tujuan pembelajaran
b. guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa dalam satu kelompok dan mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu.
c. guru membagikan paket yang berisi kartu kalimat
d. setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu kalimat yang telah dibagikan guru
e. setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu kalimat yang dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu kalimat harus dibicarakan dalam kelompok kecil.
f. guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil atas hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati dalam kelompok.
123
g. setelah seluruh kelompok tampil, siswa diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan komentar perseorangan yang dipimpin guru.
h. setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks aslinya
i. satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian. selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan, mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan logis.
j. Siswa diminta untuk membacakan kalimat utama setiap paragraf sesuai kesepakatan dalam kelompok
3. Kegiatan Akhir kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda.
I. Sumber Belajar
1. Kurikulum Sekolah Dasar UPTD PAUD DAN DIKDAS Kecamatan Temon
2. Bina Bahasa Indonesia untuk SD kelas IV semester 2, penerbit Erlangga
J. Evaluasi
1. Prosedur Evaluasi : post tes
2. Jenis Evaluasi : tertulis
3. Bentuk Evaluasi : essay
124
4. Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca
Kriteria
Bobot
Kemungkinan Skor Tertinggi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
2 2 1 1 1 1 1 1
20 20 10 10 10 10 10 10
Jumlah
10
100
Kategori penilaian kemampuan membaca pemahaman
No.
Rentang skor
Kriteria
1.
79 – 85
Sangat Baik
2.
72 – 78
Baik
3.
65 – 71
Cukup
4.
<64
Kurang
K. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil, jika mencapai nilai minimal 70.
L. Lampiran
1. Kartu Kalimat
Kartu Kalimat Cerita Pendek burjudul “Dolphina Si Anak Laut”
Di tepi pantai, tampak sosok gadis kecil berdiri tenang di atas pasir yang menghampar.
Dolphina, nama anak gadis kecil itu, adalah seorang anak nelayan.
125
Tanpa bantuan apapun, ia sanggup bertahan beberapa lama di dalam air. Pagi ini, saat matahari masih bersembunyi ia sudah berada di tepi pantai.
Kali ini laut beralun lembut. Hanya ombak kecil yang memecah di pantai. Tampak begitu tenang.
Satu hal yang membuatnya mengerutkan kening, ia melihat banyak ikan terapung mati. Ikan-kan itu dingin dan membeku.
Tetapi dengan cara itu, semua ikan dari yang kecil hingga yang besar akan mati.
. Naluri anak laut Dolphina berontak. Tanpa ragu, Dolphina mencebur ke air. Ia berenang menuju beting-beting karang.
Dugaan Dolphina tidak keliru. Dari jauh ia melihat sebuah perahu motor tertambat. Tampak tiga orang berdiri di atas karang.
Sementara itu, ia mendengar bunyi mesin bergemuruh. Mesin tersebut mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat.
Hal ini menyebabkan air laut berubah dingin. Semakin dekat mesin itu, semakin dinginlah air laut
Air laut yang sangat dingin menyebabkan ikan-ikan mati. Ikan-ikan itu tetap baik keadaannya karena mati dalam keadaan beku.
Sebagai anak nelayan Dolphina tahu, ikan-ikan di perairan itu harganya mahal. Tidak mengherankan kalau jadi incaran orang
. Mengikat orang ketiga adalah bagian Dolphina. Setelah itu, Dolphina berenang kembali ke pantai. Ia kembali ke karang dengan perahu bersama beberapa orang nelayan.
Sesudah itu, ia menyuruh orang tersebut mengikat dua orang kawannya erat- erat.
126
“ Serang !” Dolhina berseru. Mendengar seruan itu, benda-benda hitam yang ternyata adalah burung camar, menyerang tiga orang yang berdiri di atas karang itu.
Akan tetapi, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba udara di atas karang dipenuhi benda-benda hitam yang beterbangan.
Orang yang berada di atas karang saling menatap. Mereka mendengar suitan itu
. “ Biar kubereskan sendiri !” ujar Dolphina sambil mengerutkan kening. Tiba-tiba Dolphina mengeluarkan suitan panjang yang nyaring.
Oleh karena tak mampu mengatasi, mereka berteriak-teriak mnta ampun.Dengan garang Dolphina meminta salah seorang dari mereka mematikan mesin pembuat bencana
2. Teks Wacana
Dolphina si Anak Laut
Di tepi pantai, tampak sosok gadis kecil berdiri tenang di atas pasir yang menghampar. Dolphina, nama anak gadis kecil itu, adalah seorang anak nelayan. Dolphina adalah perenang ulung. Ia juga ahli menyelam. Tanpa bantuan apapun, ia sanggup bertahan beberapa lama di dalam air. Pagi ini, saat matahari masih bersembunyi ia sudah berada di tepi pantai. Kali ini laut beralun lembut. Hanya ombak kecil yang memecah di pantai. Tampak begitu tenang. Satu hal yang membuatnya mengerutkan kening, ia melihat banyak ikan terapung mati. Ikan-kan itu dingin dan membeku.
127
Naluri anak laut Dolphina berontak. Tanpa ragu, Dolphina mencebur ke air. Ia berenang menuju beting-beting karang. Dugaan Dolphina tidak keliru. Dari jauh ia melihat sebuah perahu motor tertambat. Tampak tiga orang berdiri di atas karang. Sementara itu, ia mendengar bunyi mesin bergemuruh. Mesin tersebut mengeluarkan hawa dingin yang sangat kuat.Hal ini menyebabkan air laut berubah dingin. Semakin dekat mesin itu, semakin dinginlah air laut. Air laut yang sangat dingin menyebabkan ikan-ikan mati. Ikan-ikan itu tetap baik keadaannya karena mati dalam keadaan beku. Tetapi dengan cara itu, semua ikan dari yang kecil hingga yang besar akan mati. Sebagai anak nelayan Dolphina tahu, ikan-ikan di perairan itu harganya mahal. Tidak mengherankan kalau jadi incaran orang. “ Biar kubereskan sendiri !” ujar Dolphina sambil mengerutkan kening. Tiba-tiba Dolphina mengeluarkan suitan panjang yang nyaring. Orang yang berada di atas karang saling menatap. Mereka mendengar suitan itu. Akan tetapi, sebelum mereka tahu apa yang terjadi, tiba-tiba udara di atas karang dipenuhi benda-benda hitam yang beterbangan. “ Serang !” Dolhina berseru. Mendengar seruan itu, benda-benda hitam yang ternyata adalah burung camar, menyerang tiga orang yang berdiri di atas karang itu. Oleh karena tak mampu mengatasi, mereka berteriak-teriak mnta ampun. Dengan garang Dolphina meminta salah seorang dari mereka mematikan mesin pembuat bencana. Sesudah itu, ia menyuruh orang tersebut mengikat dua orang kawannya erat-erat. Mengikat orang ketiga adalah bagian Dolphina. Setelah itu, Dolphina berenang kembali ke pantai. Ia kembali ke karang dengan perahu bersama beberapa orang nelayan.
128
Plumbon, April 2010 Mengetahui,
Kepala Sekolah Suwarno, SPd. NIP 19600115 198012 1 002
Guru Kelas Munjiyah, S.Pd. SD. NIP 19700507 199203 2 006
129
Lampiran 10. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Pertemuan Kedua Siklus II Mata Pelajaran : Bahasa Indonesia Kelas / Semester : IV/ 2 Alokasi Waktu : 2 x 35 menit Hari, tanggal : Senin, 26 April 2010
A. Standar Kompetensi
7. Memahami teks melalui membaca intensif, membaca nyaring, dan membaca pantun
B. Kompetensi Dasar
7.1 Menemukan kalimat utama pada tiap paragraf melalui membaca intensif
C. Indikator
7.1.1 Membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman yang benar 7.1.2 Menunjukkan kalimat utama suatu paragraf melalui membaca intensif
D. Tujuan Pembelajaran
Setelah berdiskusi kelompok dan mendengarkan penjelasan guru, siswa dapat:
1. membaca paragraf dengan teknik membaca pemahaman dengan benar
2. menunjukkan kalimat utama suatu paragraf dengan benar
E. Materi Pokok
Kalimat Utama dan Kalimat Penjelas
130
F. Rangkuman Materi
Setiap paragraf terdiri dari satu buah kalimat utama dan beberapa kalimat penjelas. Kalimat utama merupakan inti atau pernyataan pokok dari paragraf tersebut, yang diperjelas oleh kalimat penjelas. Kalimat penjelas adalah kalimat yang mendukung kejelasan kalimat utama yang merupakan aspek pengembangan dari topic yang dikandung dalam kalimat utama.
G. Metode dan Media Pembelajaran
1. Metode Pembelajaran
a. Ceramah
b. Tanya Jawab
c. Penugasan
d. Diskusi
2. Media Pembelajaran
a. Teks cerita, wacana
b. Kartu kalimat
H. Langkah - langkah Pembelajaran
1. Kegiatan Awal
a. Salam
b. Presensi
c. Apersepsi
Guru bertanya kepada siswa mengenai materi pelajaran yang disampaikan sebelumnya. Guru bertanya kepada siswa mengenai
131
akibat jika seseorang tidak dapat memahami aturan pakai atau petunjuk pemakaian yang tertulis pada kemasan obat atau produk lainnya.
2. Kegiatan Inti
a. guru menyampaikan tujuan pembelajaran
b. guru membagi siswa dalam kelompok-kelompok yang beranggotakan 4-5 orang siswa dalam satu kelompok dan mengatur posisi tempat duduk agar kelompok yang satu dengan kelompok yang lain tidak saling mengganggu,dan tidak saling terganggu.
c. guru membagikan paket yang berisi kartu kalimat
d. setiap kelompok siswa siap dengan perangkat kartu kalimat yang telah dibagikan guru
e. setiap kelompok siswa melakukan diskusi kecil dalam kelompoknya untuk mencari susunan kartu-kartu kalimat yang dianggap baik dan logis oleh kelompok yang bersangkutan. Alasan-alasan pemilihan susunan kartu-kartu kalimat harus dibicarakan dalam kelompok kecil.
f. guru memimpin diskusi kelompok besar untuk menganalisis dan mendengarkan pertanggungjawaban setiap kelompok kecil atas hasil kerja masing-masing kelompok yang telah disepakati dalam kelompok.
132
g. setelah seluruh kelompok tampil, siswa diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan komentar perseorangan yang dipimpin guru.
h. setelah diskusi kelompok besar menghasilkan kesepakatan bersama tentang susunan teks yang dianggap paling logis, kemudian guru menunjukkan teks aslinya
i. satu orang diminta untuk membacakan teks asli tersebut secara bergantian. selanjutnya, melalui kegiatan diskusi kelompok besar siswa membandingkan, mengkaji, menilai dan memutuskan susunan teks mana yang paling baik dan logis.
j. Siswa diminta untuk membacakan kalimat utama setiap paragraf sesuai kesepakatan dalam kelompok
3. Kegiatan Akhir
kegiatan pengayaan berupa pemberian tugas serupa dangan bahan yang berbeda.
I. Sumber Belajar
1. Kurikulum Sekolah Dasar UPTD PAUD DAN DIKDAS Kecamatan Temon
2. Bina Bahasa Indonesia untuk SD kelas IV semester 2, penerbit Erlangga
J. Evaluasi
1. Prosedur Evaluasi : post tes
2. Jenis Evaluasi : tertulis
3. Bentuk Evaluasi : essay
133
Pada perlombaan tingkat Asia atauSEA Games XXII di Vietnam, empat medali emas diraih oleh kontingen Indonesia dari cabang balap sepeda
Penggemar olahraga bersepeda, rajinlah berlatih. Melalui olahraga bersepeda ini, kalian pun dapat mengharumkan nama bangsa dan negara.
Seperti yang dilakukan para atlet bersepeda di ajang kejuaraan antar negara.
4. Kriteria Penilaian :
Kriteria Penilaian Kemampuan Membaca
Kriteria
Bobot
Kemungkinan Skor Tertinggi
Isi Organisasi Proses (1) Kesimpulan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian (2) Alasan - Keakuratan - Kekonsistenan - Keaslian
2 2 1 1 1 1 1 1
20 20 10 10 10 10 10 10
Jumlah
10
100
Kategori penilaian kemampuan membaca pemahaman
No.
Rentang skor
Kriteria
1.
79 – 85
Amat Baik
2.
72 – 78
Baik
3.
65 – 71
Cukup
4.
<64
Kurang
K. Kriteria Keberhasilan
Siswa dikatakan berhasil, jika mencapai nilai minimal 70. L. Lampiran
Kartu Kalimat Wacana Berjudul “Atlet Bersepeda Indonesia Unguul di Asia”
134
Hal ini dibuktikan oleh pembalap sepeda muda seperti Santia Tri Kusuma, yang meraih dua medali emas SEA Games XXII di Vietnam.
Beasiswa ini diberikan untuk mempersiapkan diri mengikuti ajang Olimpiade di Athena.
Prestasi Santia bukan hanya di tingkat nasional dan Asia, melainkan di tingkat dunia
Setelah itu Indonesia mengalami penurunan prestasi. Akan tetapi, tahun-tahun berikutnya Indonesia kembali meraih prestasi di kawasan Asia.
Pada SEA Games XXII di Kuala Lumpur, Malaysia, atlet Indonesia meraih sebelas medali emas.
Atlet balap sepeda Indonesia memang unggul di ting kat Asia. Pada Asian Games IV 1962 di Jakarta, Indonesia memperoleh tiga medali emas.
Pada kejuaraan dunia Grade B di Swiss, dia berhasil meraih dua medali perunggu dari semua medali yang diperebutkan.
Pada Sea Games di Vietnam hanya diperebutkan sepuluh medali emas karena nomor trek (velodrom) tidak dipertandingkan.
Pada tingkat Asia Tenggara, negara kita memang sudah cukup lama berprestasi.
.
.
Karena keberhasilan ini, Santia menerima beasiswa dari Olympic Solidarity.
135
Teks Wacana “Atlet Bersepeda Indonesia Unguul di Asia” Penggemar olahraga bersepeda, rajinlah berlatih. Melalui olahraga bersepeda ini kalian pun dapat mengharumkan nama bangsa dan negara. Seperti yang dilakukan para atlet bersepeda di ajang kejuaraan antar negara. Pada perlombaan tingkat Asia atauSEA Games XXII di Vietnam, empat medali emas diraih oleh kontingen Indonesia dari cabang balap sepeda Pada tingkat Asia Tenggara, negara kita memang sudah cukup lama berprestasi. Pada SEA Games XXII di Kuala Lumpur, Malaysia, atlet Indonesia meraih sebelas medali emas. Pada Sea Games di Vietnam hanya diperebutkan sepuluh medali emas karena nomor trek (velodrom) tidak dipertandingkan. Atlet balap sepeda Indonesia memang unggul di ting kat Asia. Pada Asian Games IV 1962 di Jakarta, Indonesia memperoleh tiga medali emas. Setelah itu Indonesia mengalami penurunan prestasi. Akan tetapi, tahun-tahun berikutnya Indonesia kembali meraih prestasi di kawasan Asia. Hal ini dibuktikan oleh pembalap sepeda muda seperti Santia Tri Kusuma, yang meraih dua medali emas SEA Games XXII di Vietnam. Prestais Santia bukan hanya di tingkat regional dan Asia, melainkan di tingkat dunia. Pada kejuaraan dunia Grade B di Swiss, dia berhasil meraih dua medali perunggu dari semua medali yang diperebutkan. Karena keberhasilan ini, Santia menerima beasiswa dari Olympic Solidarity. Beasiswa ini diberikan untuk mempersiapkan diri mengikuti ajang Olimpiade di Athena.
136
Plumbon, April 2010 Mengetahui,
Kepala Sekolah Suwarno, SPd.
NIP 19600115 198012 1 002

Guru Kelas Munjiyah, S.Pd. SD.
NIP 19700507 199203 2 006

0 komentar:

Poskan Komentar

Berikan Komentar Anda Untuk Kemajuan Blog ini.

Site Meter